Monthly Archives: August 2010

SUGUHAN SATU JUZ, AROMA MEKKAH

SUGUHAN SATU JUZ, AROMA MEKKAH

*Kabar Ramadhan Uda, Edisi Qiyaam…

“Ayah, satu juz…..Yah” selepas sholat Isya, seorang anak yang berada di sebelah kanan Uda menyapa dengan gundah ayahnya yang sedang larut dalam dzikir di baris kiri depan Uda. Uda masih bingung kemana arah pertanyaan anak ini. Namun uda lanjutkan melihat ekspresi sang ayah demi mendengar pertanyaan si anak. Sang Ayah memandang penuh cinta pada anaknya. Melumat keluh kesah itu dalam-dalam dengan senyuman bijaknya. Dan dengan satu kedipan mata pelan, ia mengamini pertanyaan anaknya. Sang anak mendesah, tetap mengeluh. Ia sadar, usahanya untuk melarikan diri dari ritual tarawih, gagal total. Ia tak berani pulang sementara ayahnya masih kokoh duduk disana. Uda tersenyum melihat dialog sederhana mereka berdua.

Di papan pengumuman Uda membaca sebuah pengumuman singkat, “Insya Allah malam ini kita akan sholat tarawih satu juz, bersama Al-Hafidz…” Waduh. Tidak seperti pekan kemarin, dimana Uda berhasil mengelana ke masjid lain. Malam jum’at ini Uda benar-benar lupa kalau di Masjid dekat rumah ada program tarawih satu juz. Dan beberapa jama’ah tampak undur diri. Sepertinya mereka tidak berminat untuk mengikuti tantangan satu juz malam ini.

suguhan satu juz aroma mekkah

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh”. Imam masjid memberikan pendahuluan, “Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Imam Syafi’i selama Ramadhan mengkhatamkan tilawatil qur’annya sebanyak dua kali. Pertama dikhatamkan dalam sholat dan kedua di luar sholat. Malam, ini kita hanya akan menghabiskan satu juz. Jauh amat sedikit dibandingkan dengan beliau” kata-kata beliau begitu memotivasi Uda. Iya juga, satu juz, tidak ada apa-apanya dibanding dua kali khatamnya Imam Syafi’i. Subhanallah, Pak Imam mengembalikan semangat juang Uda untuk menikmati tarawih satu juz malam ini.

Ceramah ditiadakan. Al-Hafidz maju menggantikan Imam masjid, komando sholat diambil alih. Lalu beliau memulai takbir, “Allahu Akbar”, dan mengalirlah ayat-ayat indah juz dua dari bibir Al-Hafidz, “Sayaquulussufahaa…..”. Ya Allah, nikmat sekali bacaan Al-Hafidz ini. Uda pejamkan mata sejenak. Sungguh serasa berada di Masjidil Haram, ditemani tartil merdu Imam As-Sudais dibawah keteduhan awanan khusyuk.

*Jika ada yang berminat menikmati suguhan satu juz aroma mekkah, silahkan berkunjung ke Masjid Baitus-Salam, belakang Kantor Bea dan Cukai

Sayembara Menunggang Kuda, Sengsara Membawa Nikmat…

Sayembara Menunggang Kuda, Sengsara Membawa Nikmat…

*Sebuah catatan agar tak cepat menyerah pada lezatnya layanan instan sehingga tak peduli dengan lenyapnya  harga diri

Di luar, panas menyengat amat terik. Melelehkan semangat Uda dan rekan Uda, Bang Kerak untuk melanjutkan petualangan mendapatkan surat berharga dari kerajaan. Apalagi kami, mau tidak mau, harus mangkir dari padepokan. Melaju dari pelosok selatan ke ujung pelosok barat negeri. Meninggalkan bertumpuk-tumpuk pekerjaan. Meski entah itu pekerjaan siapa, tetap saja rasanya hati tak tega. hehe..

***

sayembara menunggang kuda

Surat berharga yang uda maksud adalah perijinan untuk menunggang. Mengingat semakin banyaknya kuda yang lalu lalang. Sehingga bagaimanapun harus diupayakan penanggulangan untuk selamat dari kecelakaan fatal yang bisa merenggut banyak nyawa. Serta untuk mengurangi kemacetan yang berpotensi menghambat perekonomian di kerajaan kami ini. Maka setiap penunggang kuda mesti memiliki Surat Berharga ini. Dan tidaklah cuma-cuma untuk mendapatkan Surat Ijin Menunggang (SIM) ini. Karena kita diharuskan melewati serangkaian sayembara.

***

Di saku, Uda dan Bang Kerak mengantongi hasil sayembara dua pekan lalu. Disana juga ada beberapa kantong receh, untuk upeti, kalau-kalau nanti para Prajurit Pasukan Lalu Lalang membaca dengan lengkap artikel Uda ini

Cinta dalam Dua Rantang

Cinta dalam Dua Rantang

Mungkin beberapa sajian menu resto megah nan laris memang menang dalam kelezatan. Tapi bicara perkara sensasi, tak pernah akan ada yang bisa mengalahkan dua bekal dalam rantang Uda. Dua rantang yang bukan sekedar menggantung di pengait motor butut Uda. Tapi juga telah mengambil sebuah tempat di lubuk hati Uda. Sebuah tempat yang mengusik-usik rasa syahdu. Sebuah tempat dimana romantisme dan kerinduan mendalam bersemayam.

rantang cinta

#Menjemput Rantang Satu

Tigapuluh hari sekali. Secara rutin Uda melepas rindu pada seorang perempuan yang datang dari pesisir Bengkulu. Sepulang dari kantor, menjelang malam, Uda selalu menjumpainya di sebuah hotel di kawasan Pasar Baru. Lalu kami berbincang berdua saja. Obrolan dengan perempuan ini memang sangat mengasyikkan. Seru, liar dan sedikit lincah. Bagaimana tidak. Karakter kami berdua memang mendekati kembar. Uda dan perempuan berjilbab yang amat keras perjuangannya itu. Perempuan yang selalu Uda rindukan, namun tak pernah sanggup Uda senandungkan padanya. Karena lagi-lagi, kita juga sama dalam urusan ego. Bersepakat untuk jaim dalam menunjukkan rasa rindu kita. Uda dan dia terlalu enggan untuk bermellow-ria.  Uda dan kakak perempuan Uda itu.

***

Satu hal yang paling Uda nantikan dari kesinggahan Uni (kakak perempuan dalam bahasa padang) Uda ke Jakarta adalah sebuah rantang. Benda berbentuk kotak itu sebenarnya tak punya aura ghaib. Tidak pula amat berharga untuk layak diimpi-impikan. Ia juga tidak memiliki nilai historis sehingga harus disanjung-sanjung dengan kalimat sastra bersayap. Yang amat luarbiasa adalah apa yang disimpan oleh rantang itu didalam perutnya. Sepaket masakan hebat dengan bumbu racikan pilihan. Buah tangan perempuan yang paling Uda cintai. Masakan yang telah tersaji di hampir keseluruhan episode hidup Uda. Masakan yang dari semenjak mendengar kabar kedatangannya saja sudah bisa membuat Uda –selalu- meneruskan membaca lengkap artikel ini