Sayembara Menunggang Kuda, Sengsara Membawa Nikmat…

*Sebuah catatan agar tak cepat menyerah pada lezatnya layanan instan sehingga tak peduli dengan lenyapnya  harga diri

Di luar, panas menyengat amat terik. Melelehkan semangat Uda dan rekan Uda, Bang Kerak untuk melanjutkan petualangan mendapatkan surat berharga dari kerajaan. Apalagi kami, mau tidak mau, harus mangkir dari padepokan. Melaju dari pelosok selatan ke ujung pelosok barat negeri. Meninggalkan bertumpuk-tumpuk pekerjaan. Meski entah itu pekerjaan siapa, tetap saja rasanya hati tak tega. hehe..

***

sayembara menunggang kuda

Surat berharga yang uda maksud adalah perijinan untuk menunggang. Mengingat semakin banyaknya kuda yang lalu lalang. Sehingga bagaimanapun harus diupayakan penanggulangan untuk selamat dari kecelakaan fatal yang bisa merenggut banyak nyawa. Serta untuk mengurangi kemacetan yang berpotensi menghambat perekonomian di kerajaan kami ini. Maka setiap penunggang kuda mesti memiliki Surat Berharga ini. Dan tidaklah cuma-cuma untuk mendapatkan Surat Ijin Menunggang (SIM) ini. Karena kita diharuskan melewati serangkaian sayembara.

***

Di saku, Uda dan Bang Kerak mengantongi hasil sayembara dua pekan lalu. Disana juga ada beberapa kantong receh, untuk upeti, kalau-kalau nanti para Prajurit Pasukan Lalu Lalang memintanya. Uda dan Bang Kerak sama-sama diwajibkan mengulangi sayembara. Padahal hasil sayembara kami tak terlalu mengecewakan. Cuma kurang satu nilai dari poin yang dinyatakan berhasil.

***

Berbeda dengan saat pertama menghadapi sayembara. Kali ini saat pertama memasuki gapura kerajaan, aura skeptis menyelimuti kami. Praktek-praktek seserahan berupa beberapa kantong receh masih marak terjadi. Memang para Prajurit Pasukan Lalu Lalang itu tidak memintanya secara langsung, apalagi coba-coba memalak. Namun mekanisme pembuatan Surat Ijin Menunggang memang dibuat amat rumit. Dan semuanya sudah bisa terlihat semenjak sayembara tulis. Pertanyaaan-pertanyaan yang disajikan pertama-tama akan memunculkan keyakinan bahwa kita akan mampu mengerjakannya dengan mudah. Namun kenyataanya terlihat saat kita melihat papan pengumuman hasil sayembara. Kita akan ternganga, kaget. Karena hampir setengah jawaban kita salah. Padahal kita sendiri juga bingung dimana kita bisa mengakses jawaban-jawaban sayembara itu. Jadi kita, rakyat kerajaan ini, tidak bisa memutuskan apakah sayembara ini benar-benar diperiksa secara adil atau tidak. Beberapa rakyat yang enggan sulit dan ribet, mengeluarkan beberapa kantong receh dari sakunya sebagai solusi.

***

Uda dan Bang Kerak kembali menelan ludah karena lagi-lagi hasil kami berdua dinyatakan gagal. Kami merogoh-rogoh receh di kantong. Masih berat rasanya. Bukan recehnya yang kami sayangkan tetapi harga diri kami. Karena sebenarnya dua pekan lalu kami berdua juga sudah berniat menyerahkan beberapa batang emas. Namun demi menemui seorang calon penunggang yang berhasil lulus sayembara tanpa upeti. Kami jadi merasa malu pada sendiri. Cuma karena ingin serba cepat dan tidak terlampau lelah. Kami sempat rela untuk menjual harga diri kami bersama batangan emas itu.

***

Lagi-lagi Uda dan Bang Kerak duduk manis di ruangan kerajaan. Mengerjakan pertanyaan-pertanyaan yang persis sama. Kami berdo’a supaya kali ini bisa melenggang ke lapangan untuk beralih ke sayembara menunggang. Tentunya tanpa menyerahkan upeti dan harga diri kami. Namun hasil yang terpampang di papan pengumuman kembali menggurat ekspresi kecewa di wajah Uda dan Bang Kerak.

***

Sekarang Uda dan Bang Kerak di ruang Pencarian Keadilan. Kami ngotot ingin melihat jawaban kami. Kami ingin semuanya ditunjukkan dengan transparan. Melihat kegigihan kami, Prajurit Pasukan Lalu Lalang sepertinya meneliti kembali nurani mereka. Kami diminta menunggu beberapa saat. Menjelang sore, setelah menempuh kembali sayembara ulangan, Uda dan Bang Kerak berhasil lulus sayembara teori. Wajah Bang Kerak yang dari pagi muram. Berseri-seri dengan deretan gigi yang selalu ditampakkan.

***

Di lapangan telah ada prajurit penguji dan beberapa ekor kuda. Kuda yang ini agak berbeda dengan yang Uda dan Bang Kerak miliki. Lebih tegap, besar, dan sedikit lebih bersih. Satu lagi, sepertinya ia juga agak sukar dikendalikan. Nyali Uda dan Bang Kerak agak ciut. Tantangan sayembara kali ini adalah menunggangi kuda dengan sedikit manuver di tikungan yang teramat sempit. Dan terlihat hampir mustahil. Nyali Uda dan Bang kerak sempat ciut. Apalagi tadi kami sempat memata-matai beberapa rakyat yang sempat mencobanya. Dan semuanya gagal. Geram melihat ujian yang amat susah ini, Uda bilang ke Bang Kerak bahwa Uda bersedia membayar lima puluh keping emas untuk prajurit yang berhasil menunggang kuda itu sebagaimana yang mereka perintahkan.

***

Tanpa diduga, salah satu prajurit memberikan contoh cara menunggang. Uda dan Bang Kerak yang tadi melihat betapa mustahilnya hal tersebut benar-benar tercengang. Prajurit yang agak buncit itu dengan asyiknya mengayun kuda putih gagah itu di tikungan teramat sempit. Dengan begitu gagahnya, ia berhasil.

***

Uda ditunjuk oleh prajurit. Didaulat mendapat kesempatan pertama. Uda pandang Bang Kerak dalam-dalam. “Tenang Bang Kerak, kita tunjukkan pada mereka. Jika mereka bisa. Kenapa pula kita tidak?” Uda agak kaku memegang tali kendali. Keringat Uda mengalir. Uda ambil ancang-ancang. Kuda berlari lambat. Mendekati tikungan, Uda melikukkan badan. Dengan menarik sedikit tali kendali. Tepat di tikungan sempit muncul sedikit masalah. Kuda putih gagah milik prajurit itu sedikit berulah. Kelabakan, Uda coba antispasi dengan sedikit tarikan mendadak. Meski tak terlalu mulus, Uda berhasil menikung. Mengajak si putih gagah melangkah pelan menuju prajurit. Uda turun dengan sunggingan senyum menawan. Bak pangeran selepas meminang putri. Para prajurit terheran menyaksikan keberhasilan atraksi Uda. Tak disangka-sangka Bang Kerak, juga berhasil. Kami berjabat tangan hangat saling memberi selamat. Menikmati perjuangan sengsara bersama selama lebih kurang dua pekan. Sengsara yang berakhir menyenangkan. Seperti akhir kisah putri salju yang menetap di istana bersama pangeran. Bahagia berbunga-bunga.

***

Kami pulang menunggang kuda dengan amat gagah. Setelah sekian lama, akhirnya kami bisa menunggang kuda dengan aman, damai, dan tidak lupa dikawal rasa tanggung jawab. Karena sekarang kami telah mendapatkan Surat Berharga itu. Surat Ijin Menunggangi Kuda. Uda dan Bang Kerak berjanji akan Menunggang dengan bijak, hati-hati, dan patuh pada rambu kerajaan…..

6 thoughts on “Sayembara Menunggang Kuda, Sengsara Membawa Nikmat…

    1. reedai313 Post author

      hahahaha..
      bisa aja si Om..
      SIM dah punya..
      pajak motor yg belum bayar..
      nasib2…
      hehe..
      masih blm nyaman ni kalo gini nunggangnya..

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s