
satu dari sepasang mug
– 03 April 2011, 18.45 WIB
Uda pamit tanpa menjelaskan tujuan. Permaisuri uda cuma memandang heran. Lalu kembali bergelut manja dengan Hanifa. Keramaian hajatan Maulid Nabi telah menutup jalan raya, uda dan Scoopy terpaksa menyusuri lorong-lorong gang sempit. Meliuk-liuk menghindari lalu lalang kendaraan lain yang juga tersendat macet.
Uda sematkan gagang kaki Scoopy di tanah. Uda pandangi laboratorium cinta itu. Uda genggam tabung formula yang uda bawa. Isinya adalah virus-virus yang mampu melumpuhkan jenuh dan hambarnya asmara. Lalu petugas mengambil alih dan mulai meracik virus dari formula tadi. Butuh waktu agak lama, maka uda tinggalkan ia sejenak.
***
– 03 April 2011, 20.45 WIB
Lagi-lagi uda pamit secara misterius. Tiba di laboratorium, menunggu sebentar lalu dihulurkanlah barang pesanan uda. Sudah rapi dibungkus dalam dua kotak putih. Uda dekap puas bungkusan itu, lalu menghela Scoopy menerabas gelita.
Dalam perjalanan pulang, uda sempatkan singgah di laboratorium lain, untuk mendapatkan perekat ajaib dan sampul cantik. Uda dan Scoopy saling tatap dalam sukacita. Rencana kami akan berjalan sempurna. Besok pagi isi dalam kotak putih ini akan menciptakan semacam reaksi kimia pada calon korban kami. Bukan seperti teror bom yang menakutkan. Ini adalah sesuatu yang bisa membuat pipi memerah. Dan hati bergairah.
Uda rakit ketiga barang tadi dengan amat antusias. Sambil beberapa kali melirik permaisuri uda yang sudah lena dalam tidurnya. Rencana hebat ini tak boleh terendus dini. Bisa rusak semua efek dan gejala yang akan ditimbulkannya.
***
– 04 April 2011, 06.40 WIB
Uda berangkat setelah tangan uda dicium takzim oleh permaisuri dan Hanifa. Setelah meliuk merubah arah, masuk gerbang, melewati pintu, menaiki lift, dan akhirnya sampai di ruangan kerjanya, Uda letakkan barang rakitan tadi di meja kantor permaisuri uda.
***
Tak menunggu terlampau lama, reaksi yang uda nanti-nanti muncul, di monitor kerja uda, permaisuri menyapa via g-talk,
“Jazakallah, Uda. Dag dig dug pas mau buka, kayak orang pacaran aja. —dan obrolan mengalir sampai akhir…—”
Ya, cangkir coklat itu dihiasi dua pose gambar uda dan permaisuri. Turut di dalamnya, uda sematkan kertas bertuliskan kalimat sederhana.
“Mug ini ada sepasang, satu ada pada Uda. untuk terus mengikat memorimu pada Uda, pada “kita” makna tambahannya kira-kira begini;
“Cangkir ini ada sepasang, satu disana dan satu pada Uda. Setiap mereguk minuman dari cangkir ini bayangkan bahwa kita juga sedang mereguk cinta. Sehingga cinta itu tak akan pernah terasa berkurang, namun akan selalu bertambah-tambah.”
Disana. Di cangkir itu juga ada angka-angka yang harus selalu kami kenang, bak kode brankas cinta. Angka ’404′, yaitu momentum kelahiran permaisuri uda. Lalu ’313′, tanggal milad Uda. Dan terakhir disusul ’307′, hari bersejarah bagi kami berdua. Hari dimana kami ‘jadian’.
***
*Semoga usia permaisuri yang tersisa bisa membawa barokah. Bagi diri permaisuri uda, uda, dan Hanifa. Tak lupa menjadi cahaya bagi semesta