Monthly Archives: April 2011

#CDK

#CDK

#CINTA DUA KEREMPENG

oleh: uda riki

        Sosok itu bersama senyum tipis keramatnya menyambutku. Sahabat sepuhku semenjak kuliah itu, tersenyum bagai tanpa ekspresi. Ia kulum sendiri yang ia rasa, tanpa ingin membaginya. Kemudian ditatapnya buku-buku tubuhku. Lama. Kembali ia tersenyum agak lebar. Namun masih dikulum. Senyuman tanda kebahagiaannya mendapatiku tetap patuh pada kezuhudan yang kami bangun bersama sejak lampau. Terbukti, postur kami masih kekal dalam kekerempengan. Sangat kentara tampak melalui tiap gerakan kami yang mirip penari kejang baru belajar. Amat rindu, kami berpelukan erat dan dekat meski agak kaku.

        Esoknya, puas menjalari kota gudeg dengan kelelahan berjalan kaki, aku dihantarnya ke stasiun. Menunggu kereta tiba, kami lahap bekal dari eyang sepiring berdua. Betapa mesranya.

        Kereta bertolak, matanya gerimis. Tubuh kerempengnya tersengal. Namun akhirnya di wajah tirusnya tetap disunggingkannya  senyuman tipis sebagaimana awal kami bersua. Senyum bahagia karena jauh-jauh aku kunjungi dari Jakarta. Lihatlah, senyuman itu ia kulum sendiri. Dasar! Benar-benar cara rakus dalam menikmati sebuah momen indah.

MEMBUJUK-PERMAISURI-NYORAT-NYORET

MEMBUJUK-PERMAISURI-NYORAT-NYORET

 

 

 

 

 

Tak bisa disangkal bahwa salah satu momen keindahan hidup adalah saat kita ‘laku’ dan akhirnya menggamit pasangan. Namun parade termonumentalnya adalah ketika kita dan pasangan kita bergeliat dalam gairah yang sama. Salah satunya adalah gairah nge-blog.  Tanpa memungkiri, melihat beberapa pasutri yang menghamparkan romantisme di ranah maya [tentu dalam konten yang tak berlebihan-pen], mau tak mau rasa cemburu uda terbit juga. Lalu tanpa pikir panjang, uda mulai merengkuh permaisuri untuk ikut serta jalan-jalan dalam arena menyenangkan bertitel blog. Segala daya dan upaya uda persembahkan dalam dialog via telechatting ini untuk merekrut permaisuri uda menjadi salah satu blogger. Dialog alot bin aneh ini akhirnya uda rasa layak menjadi bahan tulisan di kala uda dihimpit gejala hiatus.

***

Uda                 :     “Dik, coba liat blog ini, kelihatannya menarik. Dua sejolilah yang mengelolanya” uda kirimkan link blog tersebut

Permaisuri    :    “Iya, bagus kok blognya

Uda                 :     “Permaisuri juga nimbrung di blog Uda dong, sekali-sekali [menyumbangkan artikel –pen]

Permaisuri    :     “Hehe… Sebenarnya tujuan nulis di blog itu apa sih, Da?”

Uda                 :     “Menurut Permaisuri sendiri apa?

Permaisuri    :     “Ngga tau, makanya tanya ke Uda, Uda kan yang aktif ngeblog :P

Uda                 :     “1. Pengembangan gaya papar.  2. Berbagi pengalaman. 3. Bisa memberi inspirasi dan motivasi juga   4. Silaturahim (empat alasan pertama ini masih masuk akal)Gimana kira-kira permaisuri, belum berminatkah? :D

Permaisuri    :     “Belum berminat…hehe

Uda                 :     “5. menyenangkan suami (alasan yang penuh tekanan-hehe)..Masih tidak berminat?”, “6. Saling berdiskusi dengan lebih elegan.. masih belum tertarik?  “7. Diary gratis….  tidakkah menggairahkan?

Permaisuri    :     “Belum bisa menikmati, tidak pede

Uda        :               “8. Mengobati ketidakpedean (ketahuan banget kemampuan jual obatnya) …Cukup menjanjikan bukan?”

Permaisuri    :     “Gimana, kok bisa?

Uda                 :     “Uda juga dulu ngga pede awal-awalnya. Terus sekarang malah jadi over pede nih, hehe..

Permaisuri    :     “Tapi kalau Ani merasa terpaksa nanti, gimana?

Uda                 :     “O gitu, uda lupa ada satu lagi tujuan nge-blog.  9. Menempa pribadi menjadi person yang lebih “menyenangkan (pemaparan gaya politikus licin). Sekian dulu dan terima kasih…

Permaisuri    :     “ :)

Uda                 :     “Kok senyum?  Ada alasan yang bisa merubah pikirankah?   :D

Permaisuri    :     “Gak, belum..

Uda                 :     “Gedubrakkkkkkk….”

Permaisuri    :     “Hehehe..

***

Tak bisa dibantah betapa tidak enaknya gagal membujuk. Namun setelah mendengarkan alasan pamungkas permaisuri bahwa tidak semua orang punya waktu luang untuk menggores. Tidak semua orang memprioritaskan nge-blog diatas kegiatan urgen lainnya. Uda tersenyum. “Benar sekali dikau permaisuriku, uda akan dukung hobi-mu yang lain itu. Hobi yang amat mulia. Mudah-mudahan uda malah bisa  mengikuti hobi itu.

 *) Untuk seorang permaisuri yang cuma ingin menikmati tulisan uda tanpa ingin ikut mencorat-coretnya.

#di Sepasang Cangkir ini..

#di Sepasang Cangkir ini..
satu dari sepasang mug

satu dari sepasang mug

– 03 April 2011, 18.45 WIB

Uda pamit tanpa menjelaskan tujuan. Permaisuri uda cuma memandang heran. Lalu kembali bergelut manja dengan Hanifa. Keramaian hajatan Maulid Nabi telah menutup jalan raya, uda dan Scoopy terpaksa menyusuri lorong-lorong gang sempit. Meliuk-liuk menghindari lalu lalang kendaraan lain yang juga tersendat macet.

Uda sematkan gagang kaki Scoopy di tanah. Uda pandangi laboratorium cinta itu. Uda genggam tabung formula yang uda bawa. Isinya adalah virus-virus yang mampu melumpuhkan jenuh dan hambarnya asmara. Lalu petugas mengambil alih dan mulai meracik virus dari formula tadi. Butuh waktu agak lama, maka uda tinggalkan ia sejenak.

***

– 03 April 2011, 20.45 WIB

Lagi-lagi uda pamit secara misterius. Tiba di laboratorium, menunggu sebentar lalu dihulurkanlah barang pesanan uda. Sudah rapi dibungkus dalam dua kotak putih. Uda dekap puas bungkusan itu, lalu menghela Scoopy menerabas gelita.

Dalam perjalanan pulang, uda sempatkan singgah di laboratorium lain, untuk mendapatkan perekat ajaib dan sampul cantik. Uda dan Scoopy saling tatap dalam sukacita. Rencana kami akan berjalan sempurna. Besok pagi isi dalam kotak putih ini akan menciptakan semacam reaksi kimia pada calon korban kami. Bukan seperti teror bom yang menakutkan. Ini adalah sesuatu yang bisa membuat pipi memerah. Dan hati bergairah.

Uda rakit ketiga barang tadi dengan amat antusias. Sambil beberapa kali melirik permaisuri uda yang sudah lena dalam tidurnya. Rencana hebat ini tak boleh terendus dini. Bisa rusak semua efek dan gejala yang akan ditimbulkannya.

***

– 04 April 2011, 06.40 WIB

Uda berangkat setelah tangan uda dicium takzim oleh permaisuri dan Hanifa. Setelah meliuk merubah arah, masuk gerbang, melewati pintu, menaiki lift, dan akhirnya sampai di ruangan kerjanya, Uda letakkan barang rakitan tadi di meja kantor permaisuri uda.

***

Tak menunggu terlampau lama, reaksi yang uda nanti-nanti muncul, di monitor kerja uda, permaisuri menyapa via g-talk,

Jazakallah, Uda. Dag dig dug pas mau buka, kayak orang pacaran aja. dan obrolan mengalir sampai akhir…—

Ya, cangkir coklat itu dihiasi dua pose gambar uda dan permaisuri. Turut di dalamnya, uda sematkan kertas bertuliskan kalimat sederhana.

Mug ini ada sepasang, satu ada pada Uda. untuk terus mengikat memorimu pada Uda, pada “kita” makna tambahannya kira-kira begini;

Cangkir ini ada sepasang, satu disana dan satu pada Uda. Setiap mereguk minuman dari cangkir ini bayangkan bahwa kita juga sedang mereguk cinta. Sehingga cinta itu tak akan pernah terasa berkurang, namun akan selalu bertambah-tambah.

Disana. Di cangkir itu juga ada angka-angka yang harus selalu kami kenang, bak kode brankas cinta. Angka ’404′, yaitu momentum kelahiran permaisuri uda. Lalu ’313′, tanggal milad Uda. Dan terakhir disusul ’307′, hari bersejarah bagi kami berdua. Hari dimana kami ‘jadian’.

***

*Semoga usia permaisuri yang tersisa bisa membawa barokah. Bagi diri permaisuri uda, uda, dan Hanifa. Tak lupa menjadi cahaya bagi semesta