Monthly Archives: June 2011

“KENALIN NON, AYE JAKARTE…”

“KENALIN NON, AYE JAKARTE…”

Setahun lebih bercengkrama dengan Jakarta, permaisuri uda masih belum menemukan sesuatu yang istimewa selain macet dan harga barangnya yang melangit. Ia masih saja menganggap Jakarta tak jauh beda dengan kota lain termasuk kota kelahirannya, Purwodadi. Seliweran mitos bahwa Jakarta sarat kriminalitas, rentan dijejali aksi-aksi kejam bajingan sepertinya memang cuma tahayul saja. Semua masih sangat biasa sampai tragedi siang kemarin. Saat sang jakarta itu menghampiri permaisuri uda yang tengah mengayuh sepeda ontel merah mudanya. Ia singgah ditemani senyumnya yang lebih mirip seringai. “Kenalin, Aye yang Namenya Jakarte, Non” Amat cepat ia mengenalkan diri. Lalu kabur membawa serta tas jinjing permaisuri uda lengkap bersama isinya.

Puas bercengkrama dengan buah hati kami, permaisuri mengayuh kembali sepeda ontel pinknya menyusuri rute rutinnya menuju kantor. Terik siang kali ini lebih memanggang dari biasa. Permaisuri lalu mempercepat putaran sadel. Di gang kecil dekat kantor kembali laju sepedanya diperlambat demi menghindari buasnya polisi tidur. Lima puluh meter, kemudian berbelok ke kanan memasuki gang yang lebih sempit. Lengang sekali suasana di gang itu. Maklum, tengah hari begini penghuni rumah sedang tak di rumah,  mereka sibuk di tempat kerjanya masing-masing. Yang tinggal cuma pembantu dan anak-anak kecil. Mendengar derum sepeda motor dari belakang, permaisuri berhenti. Motor itu dihela pelan dan seperti hendak menyalip. Takut terserempet, permaisuri menepi ke pinggir jalan menanti motor itu melaju di depan.

Sangat tenang pengemudi motor itu memepet permaisuri lalu meraup tas jinjing yang berada di keranjang depan ontel. Permasuri terkejut bukan kepalang. Bagai melihat tahayul menjadi nyata. Pengemudi motor kurang ajar itu benar-benar persis setan-setan murahan bioskop yang muncul mengagetkan penonton dari kolong kasur. Permaisuri uda gemetar. Bahkan bibirnya tak mampu bergerak meneriakkan gelaran si maling. “Copeee….Couppp..” Suara itu lebih mirip penyanyi yang baru kelar konser tiga hari tiga malam non-stop. Mencontek iklan produk sebuah pabrik mobil, suara itu ‘nyaris tak terdengar’.  Sejurus kemudian permaisuri sibuk mengingat gelaran yang serasi untuk penjahat tak tahu diri barusan. Copetkah? Maling? Rampok? Begal? Kunyuk? Bajing? Oh, iya ‘teng-nong: Jambret’ dink. Saat sebutan yang tepat didapat, jambret itu sudah raib ditelan tikungan. Permaisuri mengucek-ngucek mata dan masih berharap semua ini mimpi belaka. Dicubit-cubitnya pipinya yang gembul. Sebagaimana biasa, tetap terasa sakit. Dikedip-kedipkannya mata sipitnya. Tak ada kasur, tak ada guling, ia masih di gang sempit ini. Masih gemetaran.

Menyadari hidup tetap harus berlanjut, meski masih lemas oleh rasa kaget, permaisuri paksakan mengayuh ontelnya dengan lunglai. Airmata rasanya sudah tak bisa ia tahan untuk mengalir. Bukan isi tas jinjing itu yang ia risaukan. Namun keterkejutan yang bagai melihat hantu ini yang amat menganggu. Apalagi saat ia sadar bahwa tadi pagi ia juga tak sempat mendirikan dhuha. Dengan lapang, perlahan diterimanya nasihat sayang dari Rabbnya ini. “Allahummaghfirliy…

Petang uda pulang dan menyaksikan permaisuri merenung diam di pojok kamar.  “Kenapa Dik, kok masih tampak murung?”. Permaisuri uda berbalik, mengepalkan tangan dan berujar garang “Kok  tadi gak kepikiran Ani tendang aja motornya, ya, Da…”.  Hehehe…

*pesen sponsor [dari permaisuri] : Dicelakai membuat kita sadar arti ‘selamat’, alhamdulillah