Mungkin beberapa sajian menu resto megah nan laris memang menang dalam kelezatan. Tapi bicara perkara sensasi, tak pernah akan ada yang bisa mengalahkan dua bekal dalam rantang Uda. Dua rantang yang bukan sekedar menggantung di pengait motor butut Uda. Tapi juga telah mengambil sebuah tempat di lubuk hati Uda. Sebuah tempat yang mengusik-usik rasa syahdu. Sebuah tempat dimana romantisme dan kerinduan mendalam bersemayam.

rantang cinta
#Menjemput Rantang Satu
Tigapuluh hari sekali. Secara rutin Uda melepas rindu pada seorang perempuan yang datang dari pesisir Bengkulu. Sepulang dari kantor, menjelang malam, Uda selalu menjumpainya di sebuah hotel di kawasan Pasar Baru. Lalu kami berbincang berdua saja. Obrolan dengan perempuan ini memang sangat mengasyikkan. Seru, liar dan sedikit lincah. Bagaimana tidak. Karakter kami berdua memang mendekati kembar. Uda dan perempuan berjilbab yang amat keras perjuangannya itu. Perempuan yang selalu Uda rindukan, namun tak pernah sanggup Uda senandungkan padanya. Karena lagi-lagi, kita juga sama dalam urusan ego. Bersepakat untuk jaim dalam menunjukkan rasa rindu kita. Uda dan dia terlalu enggan untuk bermellow-ria. Uda dan kakak perempuan Uda itu.
***
Satu hal yang paling Uda nantikan dari kesinggahan Uni (kakak perempuan dalam bahasa padang) Uda ke Jakarta adalah sebuah rantang. Benda berbentuk kotak itu sebenarnya tak punya aura ghaib. Tidak pula amat berharga untuk layak diimpi-impikan. Ia juga tidak memiliki nilai historis sehingga harus disanjung-sanjung dengan kalimat sastra bersayap. Yang amat luarbiasa adalah apa yang disimpan oleh rantang itu didalam perutnya. Sepaket masakan hebat dengan bumbu racikan pilihan. Buah tangan perempuan yang paling Uda cintai. Masakan yang telah tersaji di hampir keseluruhan episode hidup Uda. Masakan yang dari semenjak mendengar kabar kedatangannya saja sudah bisa membuat Uda –selalu- meneruskan membaca lengkap artikel ini
