oleh: Abu ‘Ayyasy

mahal dan antri
Saat harus merogoh kocek lebih untuk menyaksikan tim garuda berlaga di Gelora Bung Karno banyak yang baru sadar bahwa nasionalisme itu sebenarnya barang berharga. Bagaimana tidak, nominal untuk menyaksikan pertandingan bola secara langsung itu hampir sejajar dengan biaya mudik. Yang mana itupun bisa jadi hasil tabungan yang dikumpul-kumpulkan sejak lama. Cemburu rasanya membandingkannya dengan negeri seberang. Rakyatnya cuma perlu merogoh Rp.15.000 s.d. 150.000 untuk menyaksikan partai final di Bukit Jalil. Tiket murah meriah dengan harga hampir setara ketoprak atau lontong sayur. Disana semua bebas menikmati nasionalisme, tanpa dibatasi sekat materi.
Masalah harga. tak dapat dipungkiri ikut mempengaruhi komposisi suporter. Harga melangit hanya mampu dijangkau oleh masyarakat kelas tinggi yang cuma bisa tersenyum dan bertepuk tangan saat tercipta gol. Sedangkan riuhnya dukungan kenyataannya malah datang dari masyarakat kelas menengah bawah yang sekarang ketar-ketir melihat isi dompet untuk dicocokkan dengan mahalnya harga tiket.
Entahlah, uda juga sedang bingung memahami makna nasionalisme. Apakah semacam fanatisme dan euphoria. Atau cuma sekedar kebanggaan akan prestasi bangsa. Menikmati secara berjama’ah sukses dalam duel. Tiba-tiba uda merasa nasionalisme sempit menyesakkan dan sesaat. Uda tak ingin cuma ikut bangga, ataupun riuh membela. Tapi juga turut serta.
Nasionalisme. Ia bukan mahal tapi istimewa. Bisa dinikmati semua kalangan asalkan mereka mau. Karena nasionalisme adalah menjadi bermanfaat bagi bangsa. Dalam ruang tak terbatas. Dimana saja, kapan saja, dalam posisi apa saja.

nasionalisme
*gak dapet tiket final, karena emang gak niat nyari, hehe…
sumber gambar: http://submitlist.info/ dan http://imanusman.com/
