“Gandeng-Gandengan”

“Gandeng-Gandengan”

*bahan utama tulisan (yang berwarna merah) berasal dari zawjatee

Banyak cara untuk menunjukkan cinta. Sebanyak jalan ke roma. Bisa dengan rayuan, sajak-sajak indah, kado istimewa, beragam corak bunga. Tapi kali ini ada satu cara yang tersimpan rapi dalam file perjalanan cinta uda dan permaisuri uda. Kami menyebutnya genggaman mesra. Saling bergandeng tangan. Menggamit erat bahagia. Membagi keceriaan dalam kebersamaan. Ada sedikit testimoni dari permaisuri uda, dikirimkan via email. Sebuah kesan manis darinya tentang kami saat bergandengan tangan.

gambar dari: http://annindessyrobbani.blogspot.com/

TULISAN DARI PERMAISURI UDA:

Sesampai di tempat tujuan, terlihat ustadz yang akan mengajar kami masih di luar ruangan, pertanda pelajaran belum dimulai. Aku menunggu suami yang sedang memarkir motor untuk jalan bareng. Tiba-tiba dengan pede-nya Uda menggandeng tanganku. Sebenarnya memang sudah biasa seperti itu setiap kuliah akhir pekan. Di sepanjang lorong ma’had menuju kelas kami selalu bergandengan. Jadi inget lagu klasik, –sepanjang jalan kenangan, kita slalu bergandeng tangan- ;p . Tapi itu kan saat suasana sepi karena kami selalu datang terlambat, hehe. Kali ini beda, ini masih di halaman!! Aku tidak bisa dan tidak mau membayangkan perasaan tukang siomay, tukang parkir dan orang-orang yang -dengan tidak sengaja- melihat adegan itu.

Seketika ada debaran halus di hatiku. Persis debaran saat Uda memegang tanganku sepanjang jalan menuju kontrakan setiap kali aku menjemputnya dari stasiun Purwosari, Solo dulu. Juga dalam perjalanan menuju kostnya ketika tiba giliranku untuk mengunjunginya di Jakarta. Entah kenapa hatiku selalu berdebar, padahal kejadian itu sudah rutinitas tiap akhir pekan. Dan kali ini, mungkin karena baru saja ada nuansa dingin di antara kami, hingga hatiku membuncah gembira ketika Uda menggandeng tanganku. Itu artinya masa berantem kami memang benar-benar sudah berakhir. Alhamdulillah…

Memang dalam beberapa keadaan, kemesraan tidak selayaknya diumbar ke khalayak. Namun selama masih tidak berlebihan sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Junjungan kita, nabi Muhammad saw pernah bersabda, “Apabila pasangan suami istri berpegangan tangan, dosa-dosa akan keluar melalui celah-celah jari mereka”. Jadi membuat istri merona pipinya sekaligus menggugurkan dosa, tunggu apalagi?. :D

EDISI#2: ‘MEMOAR EMPUNYA RUSUK YANG HILANG’

EDISI#2: ‘MEMOAR EMPUNYA RUSUK YANG HILANG’

———— Special for Zawjatee ————

Kita berandai-andai bahwa jalan cerita roman Romeo & Juliet diubah secara ekstrem oleh penulisnya, Shakespeare’s. Sehingga kemudian dua sejoli ini akhirnya dapat hidup berdampingan. Sebagai suami dan istri. Namun jangan pernah membayangkan bahwa hari-hari mereka hanya akan diisi dengan puisi, bunga, dan zahir romantisme lainnya.Bisa saja dan sangat bisa, tiba-tiba tetangga sebelah mendengar makian dan piring pecah.

—————–

Kajian petang uda dan gerombolan uda masih akan mengupas kulit-kulit cinta. Kali ini buah yang kami kuliti adalah ‘rumah tangga’. Setelah uda buka dengan prolog tafsir singkat “Setangkai Kayu Bakar”, Kyai [guru ngaji-red] kami ikut nimbrung berceloteh penuh hikmah. Senyuman bersahajanya merebut perhatian kami sejenak. Lalu asam garam yang pernah beliau cicipi diuraikan pada kami dengan kalimat-kalimat syahdu teramat bijak. Tak ada kesan menggurui, ataupun sok pintar. Semuanya seperti cerita kisah. Mengalir begitu rapi tertata.

Bertengkar untuk Bahagia

Belum ada vaksin yang bisa melindungi rumah tangga secara sempurna dari konflik. Jadi tak perlu terlampau kaget saat mendapati pasangan yang sebelumnya begitu tampak sempurna di mata kita, tiba-tiba menjelma menjadi orang paling menjengkelkan, di kali lain. Ini sebenarnya bukan penyakit. Bagi yang berpikirian positif, bilang ia penyedap. Adapun yang berpikiran melankolis berpendapat bahwa itu adalah mekanisme. Amat manjur memancing peningkatan kemesraan antar-pasangan. Serta mengimunitas pasangan dari stagnasi hubungan yang bisa mengarah pada kejenuhan. Pola kemesraan dengan model begitu-begitu saja. Patut diingat, tak akan pernah bersua frase ‘kejenuhan’ dengan kosa kata ‘bahagia’.

Memori Cinta

Sosok sahabat luarbiasa berikut ini memberi contoh bahwa konflik itu bukan cela. Ia malah bisa mengasah kesyukuran. Pemutar memori akan luhurnya bakti istri. Dan kadang-kadang membina  kedewasaaan dan kematangan berpikir. Menempa suami menjadi lebih gagah dan mempesona.

——-  Suatu ketika kediaman sahabat, Umar ibnul Khaththab r.a. didatangi seorang laki-laki Badui. Lelaki ini berniat mengadukan kelakuan kurang terpuji pendamping hidupnya. Beberapa saat lamanya ia menunggu di depan pintu rumah Umar. Ia coba ketuk pintunya. Namun kemudian terdengar olehnya sesuatu yang amat mengejutkan. Dari dalam istri Amirul Mu`minin itu berbicara kepada suaminya nada kasar. Subhanallah, sungguh menakjubkan, seorang Umar yang berkepribadian keras dan tegas hanya diam. Amat tenang dan tidak menyahut. KLIK UNTUK MENIKMATI SECARA UTUH

EDISI#1: SETANGKAI KAYU BAKAR….

EDISI#1: SETANGKAI KAYU BAKAR….

-–coretan untuk Zawjatee…

Ikut hadir pula dalam rombongan pengajian sore uda kali ini, sejumput gorengan. Karena kesertaan gorengan, tak bijak rasanya bicara yang terlampau serius. Saat mulai lelah dan memerahnya langit ini, topik santai dan ringan pas sekali rasanya untuk dibincangkan.

————————-

Uda didaulat untuk menggantikan kawan rombongan yang semestinya memberi pencerahan kilat. Tak punya banyak pilihan topik, uda coba hidangkan tadabbur surat Al-Lahab. Kebetulan sekali, beberapa hari lampau, baru saja uda khatamkan bacaan tafsirnya.

Dari sekian ayat, satu ayat agak uda tekankan lama-lama. Terus terang terjemahnya menarik. Kata katanya ciamik. Maknanya teramat dalam dan cantik.

------------------------------------------------------------

Wamro-atuhu hammaalah al-hathob

Terjemahnya kira-kira begini: “Dan perempuannya (kekasih Abu Lahab-red) pembawa kayu bakar.”

Kawan-kawan yang gemar baca shiroh tak akan asing dengan nama ‘Ummu Jamil (Ibu yang cantik). Sebagaimana namanya, paras istri Abu Lahab ini memang cantik menawan. Ditambah tampilan parlentenya yang acap dikilau permata dan perhiasan-perhiasan mewah. Maka belum dibayangkanpun kita sudah terkagum dibuatnya.

Tapi sayang gambaran akhlak Ummu Jamil adalah kebalikan dari namanya. Tak hanya mengikut suaminya dalam membenci nabi teragung. Iapun juga punya nafsu besar untuk menyakiti Rasulullah shollallahu ‘alaihi wassalam. Mereka, Abu Lahab dan sekondannya, setali dua uang. Benar-benar serasi. Saling cinta dalam rumah kejahilan, berpelukan mesra dalam taman kebathilan dan sama-sama tertawa diatas ranjang kekufuran.

Maka lihatlah penggambaran sempurna Al-Qur’an tentang masa depan mereka. Yang juga adalah hikmah sepanjang masa untuk pasangan-pasangan di dunia. “Wamro-atuhu hammaalah al-hathob” Maka sebagaimana dukungan istrinya yang menambah kebahagiaan Abu Lahab dalam memusuhi nabi termulia, maka persis seperti itu pulalah nanti istrinya akan menambahkan baginya siksa Allah.

Potongan-potongan kayu yang dibawa Ummu Jamil itulah, yang akan menjadi seperti tangkaian bunga bagi Abu Lahab. Mereka bercumbu dengan kayu-kayu itu. Kayu-kayu yang menambah-nambah gejolak api sehingga kian menari-nari. Abu Lahab dan wanita pilihannya menikmati gelegak neraka entah dengan gelak tawa lagi atau tidak. Entahlah. Yang jelas. Kita berlindung dari cumbu rayu macam demikian di akhirat nanti. Na’udzubillahi min dzalika.

———————-

Tentu bagi uda dan gerombolan uda lebih menggoda kemesraan dengan tangkaian bunga ‘ibadah. Amat tak romantis rasanya melihat kekasih hati membawa-bawa kayu bakar kesana kemari. Duhai…. indah nian ditemani pendamping shalihah. Yang belum percaya dan ingin membuktikan, monggo…

LENONG HUJAN

LENONG HUJAN

Kisah menyungging senyum tak cuma muncul di arena lawak atau panggung komedi. Romansa itu hadir siang ini, saat hujan perlahan memeluk bumi dengan rintiknya. Dengan pemeran utamanya adalah permaisuri uda, yang kali ini tampil sangat melankolis, dengan payung ungu dan jaket abunya.

—-

dansa payung

Uda tatap keluar masjid, hujan seperti tak hendak berhenti. Masih turun dengan girangnya membawa kasih sayang dari Rabb-nya. Beberapa bapak yang beruntung membawa payung, sudah berlalu pulang. Timbul harapan permaisuri uda hadir bersama payung ungunya. Hujan rintik-rintik dan payung adalah pasangan serasi. Pasti, romantis sekali. Berdansa dibawah payung dengan latar irama rerintik hujan.

Uda gulung kelopak bawah celana setinggi betis. Lalu uda berlari menyibak gerimis. Di depan gang, uda kembali berteduh sejenak. Mengamati binar hujan yang mulai mereda.

—-

Permaisuri uda gelisah melihat payung masih berada di tempatnya. Diluar, bunyi hujan cukup deras untuk membuat suaminya [uda-red] kuyup. Dikenakannya jaket abu-abu milik uda. Setelah membentang payung ungu, ia berjalan menuju masjid demi menemui uda.

—-

Uda singgah di minimarket kecil depang gang kontrakan. Uda masuk dan mencari susu kedelai untuk permaisuri.Lalu beberapa saat setelahnya, bak adegan sinetron, permaisuri uda lewat di sebelah minimarket.  Selesai transaksi, uda menuju kontrakan menggenggam bungkusan berisi susu kedelai.

—-

Sampai di masjid, mata permaisuri uda menjelajah satu persatu, sandal yang parkir di teras masjid.  Ia tak melihat sandal uda disana. Lalu sejarah berulang. Persis serupa sebagaimana mama uda. Dulu, ketika uda  masih bergelut di SMA.  Menjelang malam dan uda belum pulang ke rumah, mama akan menelepon semua teman uda. Bagai orang hilang, uda dicari kesana kemari.

Permaisuri uda masih penasaran. Ia putuskan melangkah masuk ke dalam masjid. Celingak-celinguk sebentar. Lalu ia dihampiri seorang bapak yang sedari tadi heran melihat gelagatnya. “Ada apa, neng?” Permaisuri uda gelagapan. “Ini Pak, em..saya nyari suami saya” Bapak paruh baya kocak ini tertawa kecil mendengar pertanyaan polos itu. Dengan suara agak keras, ia menanyakan dengan nada canda pada teman-temannya di dalam masjid , “Ada yang merasa kehilangan istri, disini?”.

Jika ada yang tertawa, mudah-mudahan tidak seperti tawa uda saat mendengar cerita ini dari permaisuri uda ketika sudah sampai di kontrakan. Sebuah tawa yang juga disambut tawa oleh permaisuri uda. :)

MATEMATIKA BOLA—

MATEMATIKA BOLA—

oleh: Abu Ayyasy

Hampir mirip licinnya bola dengan hitung-hitungan yang mengikutinya. Tak heran hasil tanding sepakbola susah sekali dikalkulasi. Juga takbisa melibatkan hubungan sebab dan akibat untuk melihat siapa yang akan menang dan siapa yang jadi pecundang. Kekalahan dengan angka 3-0 Indonesia dari Malaysia sedikit banyak menjadi dalil pementah teori bahwa bola bisa dimatematika.

Secara kalkulasi tak ada yang akan menyangkal bahwa Indonesia lebih mungkin memenangkan pertandingan di Bukit Jalil itu. Ada beberapa analisis matematika. Pertama, sejarah merekam duel lebih banyak dimenangkan Indonesia. Dalam sepuluh pertandingan terakhir, Indonesia 3 kali menang, 2 kali kalah dan 5 kali seri. Dalam perjalanan AFF 2010 ini sendiri Indonesia secara performa juga jauh unggul. Indonesia menjadi tim dengan hasil terbaik selama penyisihan, dan menyapu bersih semua pertandingan dengan kemenangan. Kemenangan-kemenangan yang meyakinkan. Jelas, jika matematika bola itu benar. Indonesia dipastikan menang.

AFF

Sekarang coba kita beralih ke hitung-hitungan yang lebih kuat. Hubungan sebab-akibat. Sebelumnya di penyisihan grup, Indonesia menaklukkan Malaysia dengan angka telak 5-1. Maka tak ada yang pernah berpikir bahwa Malaysia akan mampu membalikkan skor di ajang final dengan skor juga lumayan besar itu, 3-0 tanpa balas.

Harapan dan Semangat

Jika ada yang pernah menyantap buku “Setengah Isi Setengah Kosong” karangan Parlindungan Marpaung tentu mengerti semangat dan harapan yang uda maksudkan. Gelas yang cuma berisi setengah minuman, akan disebut setengah kosong oleh orang-orang pesimis. Sedang mereka yang punya harapan dan semangat akan mengatakan gelas itu setengah isi.

Kekalahan telak Indonesiapun demikian. Mereka yang pesimis akan berpikir bahwa peluang Indonesia untuk  unggul agregat sangat kecil. Karena telah dilibas 3-0 di Bukit Jalil. Namun mereka yang punya harapan dan semangat akan berpikir sebaliknya. ‘Jika Malaysia mampu membalas skor telak 5-1 menjadi 3-0 maka bukan tidak mungkin Indonesia juga bisa mengulang skor fantastis 5-1 di Gelora Bung Karno pada 29 Desember 2010 nanti’. Tak perlu mematematika bola. Karena cuma akan memunculkan kesombongan berlebih sebagaimana Indonesia melawat ke Bukit Jalil, atau malah membuat putus asa sebagaimana pertandingan di Gelora Bung Karno nanti. Maka selain keahlian masing-masing pemain, strategi pelatih, kerjasama, dan disiplin. Pemain Indonesia perlu satu amunisi lagi. Amunisi utama. Keyakinan penuh bahwa sepakbola tidak bisa dimatematika.Sepakbola adalah harapan dan semangat.

*ditulis di malam ketika uda menghibur diri dengan perenungan.

sumber gambar: http://id.news.yahoo.com/photos/

MAHALNYA NASIONALISME

MAHALNYA NASIONALISME

oleh: Abu ‘Ayyasy

mahal dan antri

Saat harus merogoh kocek lebih untuk menyaksikan tim garuda berlaga di Gelora Bung Karno banyak yang baru sadar bahwa nasionalisme itu sebenarnya barang berharga. Bagaimana tidak, nominal untuk menyaksikan pertandingan bola secara langsung itu hampir sejajar dengan biaya mudik. Yang mana itupun bisa jadi hasil tabungan yang dikumpul-kumpulkan sejak lama. Cemburu rasanya membandingkannya dengan negeri seberang. Rakyatnya cuma perlu merogoh Rp.15.000 s.d. 150.000 untuk menyaksikan partai final di Bukit Jalil. Tiket murah meriah dengan harga hampir setara  ketoprak atau lontong sayur. Disana semua bebas menikmati nasionalisme, tanpa dibatasi sekat materi.

Masalah harga. tak dapat dipungkiri ikut mempengaruhi komposisi suporter. Harga melangit hanya mampu dijangkau oleh masyarakat kelas tinggi yang cuma bisa tersenyum dan bertepuk tangan saat tercipta gol. Sedangkan riuhnya dukungan kenyataannya malah datang dari masyarakat kelas menengah bawah yang sekarang ketar-ketir melihat isi dompet untuk dicocokkan dengan mahalnya harga tiket.

Entahlah, uda juga sedang bingung memahami makna nasionalisme. Apakah semacam fanatisme dan euphoria.  Atau cuma sekedar kebanggaan akan prestasi bangsa. Menikmati secara berjama’ah sukses dalam duel. Tiba-tiba uda merasa nasionalisme sempit menyesakkan dan sesaat. Uda tak ingin cuma ikut bangga, ataupun riuh membela. Tapi juga turut serta.

Nasionalisme. Ia bukan mahal tapi istimewa. Bisa dinikmati semua kalangan asalkan mereka mau. Karena nasionalisme adalah menjadi bermanfaat bagi bangsa. Dalam ruang tak terbatas. Dimana saja, kapan saja, dalam posisi apa saja.

nasionalisme

*gak dapet tiket final, karena emang gak niat nyari, hehe…

sumber gambar: http://submitlist.info/ dan http://imanusman.com/

“PUTERI KECIL, KAMERA DAN TENGKUREP”

“PUTERI KECIL, KAMERA DAN TENGKUREP”

Saat tangisan manjanya mendayu mengiring sumringah uda, kamera adalah benda pertama yang uda tunjukkan padanya. Jangan dulu salah kira. Apalagi buruk sangka. Tak ada sama sekali niat uda untuk mengenalkannya pada kosa kata ‘narsis’.

hanifa ayyasy reeda

Kekuatan pengabadian telah memaksa uda merogoh poket itu dari ransel, meskipun jelalatan mata curiga perawat mengepung uda dengan bengis. ‘Tak usahlah risau puteri kecilku, mungkin mereka tak paham makna sejarah. Saat ini baru jepretan ini yang bisa abi persembahkan. Selanjutnya abi akan membimbing tanganmu menapaki gemilangnya peradaban’

Kamera, sebagai alat pengabadi sejarah, mau tak mau turut memaksa kita menampilkan performa paling baik. Bukan sebuah tampilan munafik tapi lebih pada semangat untuk selalu lebih baik. Maka kamera cuma simbolisasi uda untuk puteri kecil uda. Bahwa mulai sekarang jejak kehidupannya dipantau bukan oleh kamera uda ini tapi oleh sebuah pengabadi sempurna. Catatan kehidupan yang tak cuma untuk dilihat kembali tapi akan diganjar. ‘Abi akan abadikan senyumanmu saat bercengkrama dengan dunia.Tak sabar pula abi ingin memotret derai senyum dunia saat kau sentuh dengan  kemuliaan dan kemanfaatanmu.’

narsis sama abi

Orang-orang terkaget-kaget saat melihat puteri kecil uda tengkurep dalam  usianya yang masih lima hari. Iba kata mereka. Sayang mereka tak melihat betapa riangnya uda saat pertama  kali membalikkan tubuh mungil itu. Tangannya menggapai-gapai girang, dan bibirnya mengurai renyah senyuman. Bagi uda menjadi jelaslah beda manja dan kasih sayang. Manja adalah buah dari ketakutan berlebihan yang melahirkan sikap yang terlalu melindungi [over protective]. Sedangkan kasih sayang adalah bentuk cinta yang menginginkan kebaikan bagi orang kita sayangi meski kadang terlihat tidak melindungi. Tengkurep, salah satu permisalan. Bagi beberapa orang tua yang ingin memanjakan anak mereka, tengkurep menjadi sebuah momok yang menakutkan. Banyak ketakutan muncul. Takut sendi anaknya terkilir, cidera tulang, sampai ada yang mengkhawatirkan posisi tengkurep akan membuat bayinya tidak nyaman. Padahal perlu diketahui, posisi tengkurep sangat bagus untuk perkembangan otak belakang. Dan konon katanya lumayan digemari bayi.

Melalui kamera dan tengkurep uda ingin mengirim pesan cinta pada puteri kecil uda. Tentang mengukir  peradaban dan intisari kasih sayang.

note: catatan ini dibuat dengan editan dan perseujuan ummu hanifa [ani, istri Uda]

TIMBANG PILIH

TIMBANG PILIH

Hal paling sulit dalam biografi kehidupan seorang manusia namun mau tak mau harus dilakukan adalah memilih. Jika hitam putih bicara mengenai penyederhaan pemilihan. Dimana warna satu mewakili kosakata ‘baik’ dan satunya lagi berafiliasi ‘jelek’. Maka akan menjadi menarik ketika kita coba sisipkan corak abu-abu ditengah-tengahnya. Biarkan saja pikiran kita bebas berfantasi, apakah abu-abu itu muda, gelap, ataupun cuma abu-abu yang sedang-sedang saja.

Onderdil utama yang kita gunakan adalah otak. Otak memilah informasi, mengurai dan meruntut dampak baik dan efek negatifnya, untuk kemudian mengambil sebuah keputusan, yang kita sebut dengan ‘pilihan’. Namun alangkah baiknya jika onderdil utama ini tak diberi kuasa terlalu berlebih. Onderdil utama bernama otak ini sebaiknya  kita kirimi seorang kawan dari pelosok negeri hati bernama bijak. Sehingga pilihan-pilihan yang muncul tak melulu menguntungkan satu pihak saja, yaitu kita pribadi. Alangkah baiknya jika setiap pilihan yang kita ambil bisa member manfaat bagi banyak orang.

Jika memang dalam pemaparannya terlalu mengawang ijinkan uda menawarkan sebuah narasi cerita dan uda minta kawan-kawan bisa andil bukan sekedar dalam membaca namun memberikan pilihannya.

# Cerita 1 – ‘REL’#

sumber: FLICKR photo

Cerita ini pernah uda dengar dari kakak kelas sewaktu lampau saat masih giat di bangku kuliah. Kira-kira bunyi ceritanya seperti begini. Jika kita menjadi masinis yang harus segera memutuskan untuk memilih diantara dua jalur rel kereta. Dimana rel kanan merupakan rel yang biasa dilewati kereta namun disana terlihat banyak anak-anak yang sedang bermain. Sedangkan  di sebelah kiri, ada seorang anak kecil yang sedang asyik bercengkrama dengan bonekanya diatas rel yang sudah lama tidak difungsikan, namun masih bisa digunakan itu. Maka  rel mana yang akan kawan lintasi? Rel biasa atau rel yang cuma ada satu anak kecil diatasnya tadi? Anak mana yang akan kawan korbankan dan yang mana yang akan kawan selamatkan?

# Cerita 2 – ‘TOILET’#

http://sapphiregolds.blogspot.com/

Cerita ini baru saja muncul dalam kepala uda beberapa saat lalu. Jika kawan-kawan, terutama yang lelaki sedang di WC umum, dan kebetulan sedang kebelet buang air kecil, maka kawan akan menggunakan toilet berdiri yang memang diperuntukkan untuk buang air kecil, ataukan tetap menggunakan toilet tertutup yang diperuntukkan untuk buang air besar, karena perasaan malu menunaikannya di toilet berdiri dengan kemungkinan membuat kawan kita yang lain yang lebih membutuhkan harus menunggui kita?

Sebetulnya banyak misteri kebijakan dalam pilihan kita, yang bisa jadi cuma kita dan Allah yang mengetahuinya.  Artikel ini uda buat cuma untuk melihat bagaimana cara teman-teman menimbang pilih. Tak ada maksud lain. Betul-betul tak ada.

‘BANGKIT MENULIS’

‘BANGKIT MENULIS’

*oleh: yang baru saja koma

Sangat menyakitkan bagi uda untuk mengakui bahwa menulis telah menjadi agenda sisa dari beragam aktivitas uda. Karena menyangkal bagaimanapun, dengan dalil yang paling tak terbantah sekalipun, rekan-rekan tentu bisa mengamati rentang waktu vakum tulisan uda. Dan itu tidak lain dan tidak bukan karena uda benar-benar cuma mengagendakan semua sisa untuk urusan tulis-menulis ini.

Koma panjang uda selama beberapa bulan ke belakang, telah dengan sendirinya mempengaruhi minat uda untuk menulis. Semakin jauh rentangnya, semakin besar keterpurukan dan keputus-asaan untuk kembali giat menulis. Ditambah lagi melihat geliat jurnalis meja seberang yang seakan tak pernah kehabisan goresan ide. Namun disinilah titik baliknya.

Rekening bernama ‘waktu’ itu diberikan sama adil setiap harinya ke setiap jurnalis. Masing-masing cuma memperoleh  86400 detik. Dan ketika tidak digunakan, rekening ini akan dihapus dan diblokir penggunaannya. Karena esoknya ia akan diberikan rekening baru lagi sejumlah sama. Jadi bagi jurnalis-jurnalis yang tak sempat menarik rekening bernama waktu ini, merugilah ia.

Maka meski tak ada perkara penting dan gagasan baru yang ingin uda sampaikan di bawah gelayut senja merah ini, uda cuma ingin menggeliat sejenak dari tidur panjang manakala koma, dan ingin berteriak sedikit, “Uda bangkit  untuk menulis…” Karena coretan sederhana inilah bukti bangkitnya tulisan, bukan ide-ide indah yang terpenjara rajut-rajut kalimat kesempurnaan di pojokan otak.

sumber gambar: – http://diary-gila-ronney.blogspot.com/ dan; - http://speedy4speedup.blogspot.com/

SUGUHAN SATU JUZ, AROMA MEKKAH

SUGUHAN SATU JUZ, AROMA MEKKAH

*Kabar Ramadhan Uda, Edisi Qiyaam…

“Ayah, satu juz…..Yah” selepas sholat Isya, seorang anak yang berada di sebelah kanan Uda menyapa dengan gundah ayahnya yang sedang larut dalam dzikir di baris kiri depan Uda. Uda masih bingung kemana arah pertanyaan anak ini. Namun uda lanjutkan melihat ekspresi sang ayah demi mendengar pertanyaan si anak. Sang Ayah memandang penuh cinta pada anaknya. Melumat keluh kesah itu dalam-dalam dengan senyuman bijaknya. Dan dengan satu kedipan mata pelan, ia mengamini pertanyaan anaknya. Sang anak mendesah, tetap mengeluh. Ia sadar, usahanya untuk melarikan diri dari ritual tarawih, gagal total. Ia tak berani pulang sementara ayahnya masih kokoh duduk disana. Uda tersenyum melihat dialog sederhana mereka berdua.

Di papan pengumuman Uda membaca sebuah pengumuman singkat, “Insya Allah malam ini kita akan sholat tarawih satu juz, bersama Al-Hafidz…” Waduh. Tidak seperti pekan kemarin, dimana Uda berhasil mengelana ke masjid lain. Malam jum’at ini Uda benar-benar lupa kalau di Masjid dekat rumah ada program tarawih satu juz. Dan beberapa jama’ah tampak undur diri. Sepertinya mereka tidak berminat untuk mengikuti tantangan satu juz malam ini.

suguhan satu juz aroma mekkah

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh”. Imam masjid memberikan pendahuluan, “Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Imam Syafi’i selama Ramadhan mengkhatamkan tilawatil qur’annya sebanyak dua kali. Pertama dikhatamkan dalam sholat dan kedua di luar sholat. Malam, ini kita hanya akan menghabiskan satu juz. Jauh amat sedikit dibandingkan dengan beliau” kata-kata beliau begitu memotivasi Uda. Iya juga, satu juz, tidak ada apa-apanya dibanding dua kali khatamnya Imam Syafi’i. Subhanallah, Pak Imam mengembalikan semangat juang Uda untuk menikmati tarawih satu juz malam ini.

Ceramah ditiadakan. Al-Hafidz maju menggantikan Imam masjid, komando sholat diambil alih. Lalu beliau memulai takbir, “Allahu Akbar”, dan mengalirlah ayat-ayat indah juz dua dari bibir Al-Hafidz, “Sayaquulussufahaa…..”. Ya Allah, nikmat sekali bacaan Al-Hafidz ini. Uda pejamkan mata sejenak. Sungguh serasa berada di Masjidil Haram, ditemani tartil merdu Imam As-Sudais dibawah keteduhan awanan khusyuk.

*Jika ada yang berminat menikmati suguhan satu juz aroma mekkah, silahkan berkunjung ke Masjid Baitus-Salam, belakang Kantor Bea dan Cukai