“MIRIS, DALAM DUA RASA”

tragedi kecil di sebuah halte busway

Ia kelihatan buru-buru. Wanita berkerudung kecil itu mungkin sedang mengejar wakt u. Dan ia kaget menemukan barisan penumpang yang cukup panjang. Antrian ini tentu tidak menarik bagi orang-orang yang ingin serba cepat. Apalagi kalau ia memang dituntut untuk tergesa.

antrian di halte dukuh atas

Dan di salah satu halte busway terpadat itu, Dukuh Atas . Wanita berkerudung kecil ini lupa sesuatu. Ia lupa bahwa semua yang sedang antri disitupun sama seperti dirinya. Ingin mengalahkan waktu. Ingin sampai ke negeri tujuan mereka sesegera mungkin. Apapun itu. Rumah. Kantor. Warungmakan kah? Dan mereka antri. Bersabar.

Wanita berkerudung kecil itu memilih jalannya sendiri. Melalui jalan selain jalan kesabaran. Ia memilih melewati antrian tersebut. Ia memenangkan kepentingan sendiri. Para pengantri tentu takkan curiga. Karena jalur sebelah yang sepi itu memang diperuntukkan bagi penumpang dengan jurusan lain. Ia mencoba berpura-pura berangkat ke tujuan yang berbeda yang sepi pengantri itu. Dan mendekati  pintu masuk, ia merubah haluannya. Ke arah jurusan yang padat penumpang.

Malang baginya, di halte itu satuan pengaman busway cukup banyak yang berjaga.   Beberapa langkah saat ia berhasil menjalankan muslihatnya, sang pengaman menegurnya. “Mbak, mau kemana? Maaf, antriannya panjang, Mbak. Silahkan baris lagi. Mari saya antarkan ke barisan paling belakang.” Sang pengaman membuat semua mata calon penumpang beralih ke wanita bekerudung kecil itu. Ia digiring oleh sang pengaman. Miris saya melihatnya. Dan saya yakin pengaman itupun demikian. Miris, karena ia perempuan, yang seharusnya tidak dibegitukan. Betapa kasihan hati ini melihat dirinya harus kembali berbaris di antrian teramat panjang itu. Namun semua itu harus dilakukan demi mengobati miris kedua. Miris karena, beginilah potret bangsa ini, ingin serba cepat, meskipun itu merugikan orang lain.

Tulisan dibuat penulis pada tanggal 3 Mei 2010 dengan dua rasa miris seperti diatas

10 thoughts on ““MIRIS, DALAM DUA RASA”

  1. agung

    miris juga mas, di ibukota kehidupan sepertinya berjalan lebih cepat. Dan semakin tidak sehat setiap harinya. Potret hasil pembangunan yg melulu fisik dan infrastruktur.

    Reply
  2. sedjatee

    penyakit masyarakat hedonis, penuh ketidakteraturan..
    semoga bisa berkaca dari kasus memalukan itu
    salam sukses..

    sedj

    Reply
    1. reedai313 Post author

      makasih Om…dah berkunjung..
      meski belum bisa menyajikan yg hebat2..
      saya harap Om jangan enggan berkunjung..
      hehehehe

      Reply
  3. sunflo

    harusnya org2 yang lemah itu yang didahulukan… sekarang pada mikir selamatnya diri sendiri yaa… dah sedikit empati yang ada…

    Reply
    1. reedai313 Post author

      sip..
      sekedar pengorbanan miris tak apalah..
      susah berkembangnya kalo ewuh pekewuh terus Pak..
      sip, abang Bobi..
      gmn OWOW-nya?

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s