BALADA TUNJANGAN

pendapatan rata atau membagi adil kesejahteraan

Prolog Kisah:

Sambil mencabuti helai-helai rambut yang dianggapnya mulai putih beruban, atasan tambun itu menatap dalam, dua bawahannya. Petruk dan Gareng. Petruk, menurut surat sakti penempatan yang kini di genggamnya itu harus bertugas ke sebuah negeri pelosok. Sebut saja, negeri kasuari. Di wajahnya amat jelas kelihatan leku k-lekuk murung dan gurat muram. Sedangkan Gareng, tetap berada di seputaran tanah lahirnya, Jawa. Lama keduanya diam.Gareng larut dalam syukur atas nikmat penugasan itu. Sedangkan Petruk. Ia terpekur. Mengumpulkan keberanian untuk bersuara.

“Mohon Romo tidak tersinggung dahulu. Nanda mohon maaf. Terus terang dah u lu, semasa nanda masih bujang, tak ada sedikitpun rasa berat nanda untuk berkelana. Melainkan bangga hati ini berbakti pada negeri. Sekarang bangga itu masih ada. Tapi setelah berkeluarga, kebutuhan nanda bertambah Romo. Rasanya amat senjang dibanding biaya hidup di tanah kelahiran kita ini.”

“Romo Semar, sudah lama nanda mengabdi pada negeri ini. Dan sejauh ini be lum ada perintah yang tak nanda patuhi. Dengan surat sakti terakhir yang nanda genggam ini, berarti ini menjadi pulau kelima yang akan nanda sambangi.

Petruk menoleh ke Gareng, memandanginya sebentar. Lalu kembali mengarahkan pandangangannya pada atasan, Semar.

“Harga-harga di pelosok tidak sama dengan di tanah subur ini (Jawa-red). Jujur saja Romo,  Nanda cemburu pada Gareng. Ia bisa tinggal dekat dengan kerabatnya disini. Nyaman, dekat. Ditambah dengan harga-harga kebutuhan pokok yang masih teramat murah.”

Romo tersentak, bawahan kesayangannya itu akhirnya melakukan interupsi. Setelah lama vakum dalam ketaklidan.

“Ananda Petruk, Bukankah Romo sudah membekali kalian dengan sekantung uang dalam jumlah yang sama. Bukankah Romo tidak pilih kasih, nanda?”

Gareng mengangguk pelan, tanda setuju. Petruk memandang kantung uangnya. Lalu memandangi kantung uang Gareng.

“Romo,Nanda ingin bertanya. Apakah sama kebutuhan terhadap air, tanaman yang hidup di lahan gersang dengan yang hidup di lahan gembur subur. Samakah kualitas perawatannya, Romo? Merata itu bukan keadilan Romo.Nanda meminta pengertian Romo.”

Ia pandangi lagi wajah kedua bawahannya itu. Kedua-duanya. Lama. Lalu beralih ke kantung uang mereka. Kerutan wajahnya bergerak-gerak, berarti sang atasan sedang berpikir keras.

Beberapa saat hening dalam pemikiran mendalam

“Ehem…..Baiklah,kali ini Romo akan coba berlaku lebih adil dan Bijak.Sebelumnya terima kasih untuk nanda Petruk yang telah mengeluhkan masalahnya”

Semarpun menyingkap kantung itu. Lalu ia menghitung kepingan-kepingan emas di dalamnya.

“Gareng sekarang Romo beri pilihan. Apakah kamu mau bertukar tempat dengan Petruk ke negeri kasuari. Atau kamu rela membagi setengah penghasilan setahunmu ini dengannya, dan impilkasinya kamu bisa tetap berada di negeri tanah airmu ini.?”

Semua wajah melukiskan guratan gembira saat Gareng mengangguk. Dan memeluk sahabatnya, Petruk…….

Cerita ini mulai tergurat dalam gagasan, saat…Entahlah. Pengobat girang hati Uda yang ternyata salah tempat. Saat mendapati adanya pemisahan kriteria pendapatan. Gaji. Dan tunjangan. Dengan secuil harapan, disisipkannya unsur keadilan di dalamya. Gaji diterima sama rata dari Sabang sampai Merauke. Sedangkan tunjangan disesuaikan dengan kemahalan daerah. Dari mulai sewa kontrakan, harga rumah, sampai tarif sembako. Janganlah sampai si menderita menjadi semakin menderita dengan penempatan jauh dari kampong halaman, dan masih dibebani biaya hidup mahal. Dan si beruntung, semakin merasa beruntung ditempatkan di kampung halamannya dengan biaya hidup yang hampir-hampir bisa membuat tabungannya tetap penuh setiap bulan.

*Penulis bukan cemburu, tapi hanya ingin ada keadilan….

11 thoughts on “BALADA TUNJANGAN

  1. sidta

    like this … andai bisa dan proses untuk kesitu tidak dibikin rumit (mumet karena pendapatan konon sebentar lagi ditentukan kinerja, capek nulis laporan kerja tiap hari…, saing-saingan loading pekerjaan, njlimet)

    selamat atas blog barunya …

    Reply
  2. sedjatee

    membaca kisah semar gareng disini..
    menemukan semangat baru untuk ngeblog secara lebih serius
    semoga istikomah.. hehehe… salam sukses

    sedj

    Reply
    1. reedai313 Post author

      yup, Om..
      terisnpirasi dari Om yg acap menggunakan karakter wayang..
      sehingga ceritanya lebih sederhana
      dan mudah dimengerti..

      Ambillah apa yg baik…
      Kira-kira gitu kan pesannya, Om?
      hehe

      Reply
  3. bundamahes

    “…Ehem…..Baiklah,kali ini Romo akan coba berlaku lebih adil dan Bijak.Sebelumnya terima kasih untuk nanda Petruk yang telah mengeluhkan masalahnya…”

    untung yang Uda ambil kata “Bijak” bukan “Bijaksana” sebab jika “Bijaksana” belum tentu “Bijaksini”

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s