SESALAN EMPUNYA SAKU KOSONG

(-untuk bapak kelam-bapak kelam dengan tiga kerupuk putih di genggamannya-)

Uda keluar dari halte terakhir. Halte Sunan Giri. Uda menyeberang. Kemudian menaiki angkot nomer 04 jurusan Rawasari-Cililitan. Sepanjang perjalanan, Uda asyik mendengarkan alunan musik dari perangkat mp3 player portable Uda. Sambil sesekali memperhatikan sekitar.

Melewati kawasan jajanan, Uda melihat-lihat menu yang disajikan. Ada jajajan laut, bakar-bakaran, goreng-gorengan. Kuali penggorengan ekstra lebar untuk membolak-balik martabak. Asap-asap mengepul dengan bau daging menyengat, ditambah bumbu-bumbu kacang. Sate dari dua pulau berbeda. Sate Madura dan Padang. Pengunjung pun benar-benar penuh sesak. Uda coba perhatikan warung makan mana yang berhasil menyedot banyak peminat. Meskipun itu juga tidak menjamin apapun. Bisa saja, alasan mereka ramai datang, bukan karena sedapnya sajian disana. Namun karena memang sedang malasnya mereka mengolah makanan. Yang memerlukan pengorbanan yang cukup besar. Waktu maupun tenaga.

Uda baca satu persatu menu-menu itu. Uda coba ingat-ingat mana yang kelihatan menarik selera. Siapa tahu, pada suatu kesempatan Uda bisa mengajak Bidadari ke salah satu tempat disana. Tempat yang menyajikan santapan-santapan favorit.

Melewati lapak terakhir. Sebuah gerobak dorong yang juga difungsikan sebagai warung. Disini biasanya menyediakan kopi sachet, sebungkus rokok, permen, makanan kecil, atau minuman-minuman dingin. Tidak ada yang menarik. Namun disebelah gerobak warung itu, yang samar-samar gelap. Uda melihat Bapak-Bapak itu duduk jongkok. Bapak hitam kelam. Legam. Sangat kumal. Dan di tangannya ada tiga kerupuk terung berwarna putih. Ia genggam. Beberapa saat kemudian, dengan amat kelaparan ia melahap satu kerupuk terung itu. Mengunyah-ngunyahnya dengan cepat dan penuh nafsu. Sangat kontras dengan segerombolan orang yang sedang asyik berhaha-hihi di sebelahnya. Dalam sebuah tenda warung pecel lele. Mengunyah ayam goreng dengan lahap sambil beberapa kali meng-udapte status facebooknya lewat hape keluaran terbaru.

Sobat…

Adakah  yang berpikir bahwa si Bapak kelam itu sedang ngemil. Kalau begitu, kenapa harus tiga kerupuk yang ia kemil? Sangat mustahil menurut Uda. Demi melihat jumlah kerupuk yang lebih dari satu. Dan lahapnya ia mengunyah. Si Bapak, menurut Uda sedang makan malam. Atau makan pagi, mungkin. Entahlah, tak ada yang tahu.

Hati Uda serasa ingin menangis melihat dua pemandangan itu. Uda coba rogoh-rogoh saku celana Uda. Sebelah kiri. Kosong. Uda beralih ke saku kanan. Nihil. Lalu Uda periksa saku belakang. Ternyata cuma tersisa uang receh. Niat Uda untuk berhenti sejenak dan mengajaknya makan di salah satu tenda makan disana, urung. Kondisi ekonomi Uda saat ini tidak mendukung. Padahal pagi tadi bidadari Uda sudah mengingatkan Uda untuk membawa uang lebih. Dan jadilah Uda sebagaimana judul artikel ini. Sesalan si empunya saku kosong.

Pulang dan mendapati nyamannya rumah. Hangatnya teh hidangan istri. Kembali Uda ingin menangis.

Ya Allah, besar sekali nikmat-Mu terhadap hamba-Mu ini. Besar sekali ya Allah..Besar sekali…

Sobat, jangan selalu melihat keatas. Karena sebenarnya mendongak itu sama sekali tidak nyaman. Sesekali menunduklah kebawah. Niscaya akan terlihat dengan jelas kasih sayang Allah pada kita. Lihatlah kebawah. Lebih dekat, dan menunduklah penuh takzim syukur pada Allah…

*Pelajaran moral yang ingin Uda bagi: Selalu sediakan uang lebih dalam saku kita, Bukan untuk jajan, atau shopping. Tapi agar kita tidak menangis, karena tidak bisa membagi nikmat Allah yang kebetulan berlebih pada kita. Pada orang-orang seperti si Bapak Legam tadi.

9 thoughts on “SESALAN EMPUNYA SAKU KOSONG

  1. Pingback: Indonesia, antara Malaysia dan Brunei Darussalam (Part 2) « Bundamahes's Blog

  2. agung

    kadang memang lupa untuk melihat ke bawah…

    “selalu sediakan uang lebih di saku kita..”
    inspiratif uda.. ^^

    Reply
    1. reedai313 Post author

      wah, mas Agung…
      terimakasih sudah mau berkunjung..
      setidaknya penyesalan saku kosong itu
      Uda tebus dengan artikel ini…

      Reply
  3. sedjatee

    selalu menghadirkan refleksi hidup dari sekitar kita
    menarik, Gan…
    salam sukses..

    sedj

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s