SECINTA ABU BAKAR-KAH KITA PADANYA…

(-menjadi malulah kita menyadari kadar cinta kita pada Rasulullah-shollallahualaihi wasallama-)

Banyak sekali alasan untuk mencintainya. Sosok agung berahaja itu. Manusia terbaik yang tak ingin disebut demikian. Insan yang punya amat banyak sisi untuk diteladani. Yang telah mengukirkan cintanya dengan amat dalam pada kita, ummatnya. Dengan menyebut-nyebut kita sebagai saudaranya. Seberapa besar kadar cinta beliau kepada kita, ummatnya. Tak usah ditanya. Lihat saja dalam lembaran perjalanan da’wah beliau di tho’if. Saat pedasnya penolakan diikuti derita lemparan batu oleh penduduk. Beliau malah menolak tawaran malaikat penjaga gunung untuk menimpakan sebuah gunung besar diatas penduduk durhaka tersebut. Dan dengan penuh cinta, beliau menjawab, “Tidak, aku berharap dari keturunan mereka nanti akan muncul generasi yang meng-esakan Allah“. Lihatlah bagaimana Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallama- menyimpan cinta dan harapan untuk kita, ummatnya. Dan itu baru satu bukti sejarah cinta beliau pada kita.

Uda pikir. Perlu bagi kita. Untuk berkaca sejenak pada cinta para sahabat. Uda akan lampirkan kisah seseorang. Sahabat terbaik Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallama-. Abu Bakar Ash-Shiddiq. Beliau menyimpan banyak kisah kecintaan pada Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallama-. Dari mulai persaksiannya akan kebeneran penuturan Rasulullah. Tentang ajaibnya kisah Isra’ Miraj. Kisah yang terdengar mustahil bagi orang-orang yang memuja logika.  Juga terlihat pada kesetiaan beliau saat menemani aktivitas hijrah Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallama-. Aktivitas yang dikepung banyak bahaya.

Banyak.  Teramat banyak mutiara kecintaan diurai Abu Bakar. Yang kalaulah kita baca, akan membuat kita malu terhadap kadar kecintaan kita. Kadar kecintaan kita pada Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallama-. Kalau boleh akan Uda ukur sedikit. Dengan sedikit perumpamaan. Andaikata pada suatu masa, Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallama-  ditawan. Dan musuh meminta ibu kaum muslimin sebagai tebusannya. Maka siapa yang akan rela menebus ibunya untuk Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallama-. Silahkan sobat renungi, dan lama-lama sobat akan sadari. Sejauh mana level kecintaan sobat pada Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallama-.

Uda kembali pada sosok yang digelari shiddiqin tadi. Ada sebuah ceramah menarik dari Syaikh Abu Ishaq Al-Huwainy. Ceramah tentang frase kisah kecintaan Abu bakar. Pada suatu ketika. Fathul Makkah. Saat ditundukkannya kota Makkah. Sehingga ia menjadi terbuka bagi kaum muslimin. Datanglah seorang tua renta. Yang uzurnya dapat dilihat pada warna janggutnya yang teramat putih. Putih, bagaikan kapas dan jejeran awanan putih. Ia mendatangi Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallama-. Untuk menjabat tangan nabi dalam rangka berbai’at padanya dalam Islam. Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallama- sangat mengenal bapak renta ini. Karena tak lain ia adalah ayah dari sahabat terdekatnya, Abu Bakar. Lelaki berusia lanjut ini bernama Abu Quhafah. Rasulullah menyadari bahwa sahabatnya juga hadir untuk menyaksikan bai’at ini. Lalu Rasulullah berkata kepadanya, “Kalaulah engkau saja yang berikrar atas bapakmu ini. Namun mengapa engkau juga mendatangi kami. Dalam sebuah riwayat diterangkan bahwa ketika Abu Quhafah meletakkan tangannya pada tangan Nabi -shollallahu ‘alaihi wasallama-. Sang anak, Abu Bakar beruraian airmata.  Ia tak kuasa menangis. Melihat genangan airmata sahabat kesayangan ini, Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallama- bertanya: ”Ma yubkiika, ya Abu Bakr?” (Apa yang membuatmu menangis, Hai Abu Bakar?) Abu Bakar memberikan sebuah jawaban luar biasa. Yang merangkai huruf-huruf cintanya menjadi sebuah kalimat yang amat menyentuh. “Wahai Rasulullah. Sesungguhnya aku sangat menginginkan agar tangan ini (tangan Ayahnya-Abu Quhafah) adalah tangan pamanmu (Abu Thalib). Dan dia bersaksi pada Allah atas engkau dengan keislamannya tentu lebih baik bagiku, daripada bapakku ini..” Nyatalah ketinggian cintamu pada Rasulullah, Yaa Abu Bakar. Yaa Ash-Shiddiq….

* Uda sangat tesentuh dengan ceramah ini. Yang Uda dengarkan dari CD “Tangisan para Ulama” yang uda dapat saat berburu di Islamic  Bookfair. — Dari shahih Bukhari : ~ Satu rumah yang semuanya telah masuk Islam, bapaknya, anak-anak, cucu-cucu, serta para istrinya. Itu adalah rumah Abu Bakar, semoga Allah meridhoinya. Telah masuk Islam Bapaknya, Abu Quhaafah, pada penaklukkan Makkah. Dia datang di usia yang sudah lanjut, tua renta, dan jenggotnya seperti kapas, seperti awan putih. Maka ketika didatangkan dalam usia tuanya. Agar dia dapat menjabat tangan nabi untuk berbaiat dalam Islam. Nabi bersabda pada Abu Bakar: “Kalaulah kamu saja yang berikrar atas bapakmu ini, tapi mengapa kamu datangi kami.”  Dalam sebuah riwayat, ketika Abu qihafah meletakkan tangannya pada tangan Nabi. Abu Bakar menangis maka Nabi bertanya: “Apa yang membuatmu menangis, Hai Abu Bakar?” Dia menjawab: “wahai Rasulullah sesungguhnya aku sangat ingin agar tangan ini adalah tangan pamanmu. Dan dia bersaksi pada Allah atas engkau dengan keislamannya tentu lebih baik daripada bapakku ini..”~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s