BERANI, ANTARA BENAR DAN SABAR

Rekam sejarah: Senin, 7 Juni 2010
Rekam skenario: Kamis, 10 Juni 2010
Pemeran Utama: Uda dan para konsumen busway

Hal yang paling tidak Uda sukai dari busway adalah pelayanan antriannya. Entah kemana petugas-petugas itu saat antrian yang sudah begitu rapihnya. Antrian panjang yang berjajar tiga teratur itu diserobot tak acuh oleh manusia-manusia korup itu. Tak ada yang berani berteriak saat haknya. Hak dirinya yang sudah lelah berbaris teratur. Hak dirinya untuk juga cepat sampai ke tujuan. Tak ada yang berani protes saat hak itu dicaplok seenaknya oleh orang-orang berpaham instan itu. Orang-orang yang tak punya niatan menghormati proses.Dengan menghilangkan malunya, ia yang baru saja datang, menyusup ke depan barisan. Uda cuma bisa geleng-geleng kepala kalo menyaksikan pemandangan ini. Dan berharap hidayah Allah membolak hati umat Indonesia ini menjadi orang-orang yang cinta tertib.

Hal paling tidak bisa Uda tahan itu, akhirnya meluncur pagi itu. Emosi. Meluncur saat lagi-lagi pemandangan jahat diatas terpampang di hadapan Uda. Tak kuat lagi rasanya untuk sekedar diam. Uda tak tegar lagi dalam kebisuan. Uda yang berada di barisan belakang. Celingak celinguk menantikan kedatangan busway. Lalu muncullah seorang pria. Melirik ke belakang sebentar. Dan akhirnya memutuskan jadi penyerobot. Ia melangkah ke barisan depan. Tepat di barisan kedua. Uda tarik tangannya. Pelan. Mas, antre dulu ke belakang. Untungnya pria bersalah ini tidak ngotot. Ia menurut apa yang Uda minta. Ia mengalah dan beringsut ke belakang.

Sayang penyerobot di dunia ini, tak cuma satu, Sobat. Beberapa saat kemudian, muncul lagi seorang wanita. Melirik ke belakang dan kelihatan tidak tertarik dengan barisan teramat panjang itu. Dan ia dengan manis berdiri di sebelah baris kedua. Tanpa sedikitpun perasaan bersalah. Uda agak kelimpungan. Tidak mungkin Uda menarik lengan wanita yang bukan mahram Uda. Ternyata wanita itu memakai tas jinjing di bahunya. Uda tarik perlahan tas itu. Mbak, tolong antre dulu ke belakang. Tak seperti pria tadi yang dengan mudahnya menurut. Wanita ini tak terima. “Biasa aja kali Mas. Gak usah pake emosi gitu Orang-orang melihat ke arah kami. Entah apa yang ada di benak mereka. Sepertinya kami telah menjadi semacam tontonan menarik buat mereka. Uda jawab protes wanita tersebut. Bukan emosi, Mbak. Kan semua juga antri. Gimana kita mau maju, mbak, Kalo kita kayak gini terus Untung beberapa saat kemudian muncul busway yang kami nanti-nantikan. Sang wanita masih belum terima sepertinya. Wajahnya masih ditekuk. Iya, tapi gak usah pake emosi gitu dong, mas. Yaudah sana duluan aja. Karena Uda bersikeras mempertahankan hak Uda. Akhirnya dia menyerah. Meski tetap tak mau antri ke belakang. Namun ia mempersilahkan Uda mendahuluinya. Meski tetap dengan ketidaknyamannya.

Duduk di busway. Uda sama sekali tidak merasa bersalah. Uda bukan cuma mempertahankan hak uda. Tapi hak orang-orang lain yang juga antri disana. Lantas apa penyebab wanita itu marah pada Uda. Karena pada kenyataannya dialah yang berada di pihak yang salah. Uda tak habis pikir. Emosi Uda masih meledak-ledak melihat kenyataan demikian. Sampai Uda mengingat bunyi sebuah surah teramat indah berikut ini..

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” [Q.S. Al-‘Ashr : 1-3]

Alangkah cantiknya pasangan kebenaran dan kesabaran.

* Tersadar alangkah naifnya Uda karena menjadi bagian golongan orang yang menginginkan keinstanan perubahan.

6 thoughts on “BERANI, ANTARA BENAR DAN SABAR

  1. ladynusantara

    salut utk keberanian uda mempertahankan hak yang juga berarti menegakkan kebenaran, membangun (kembali) etika bangsa yang dulu pernah jaya..

    lanjut, gaan..

    Reply
  2. Okit Jr

    hahah..
    susah memang jadi orang indonesia ini…
    –penuh drama..
    tenang aja, da..
    –gw juga punya pengalaman pahit dengan busway..

    tapi tetep aja… setia selalu memakainya.. biarpun kaki kondean tiap mau ke haltenya…
    namanya juga angkutan umum…🙂

    –tapi hebat juga…
    uda bisa negur..
    –memang sih… masih banyak rakyat indonesia masih belom punya malu untuk menyerobot hak orang lain… –semoga kita tetep dihindarkan dari perilaku seperti itu ya, da…
    (ngomong apa gw ini)

    Reply
    1. reedai313 Post author

      haha..
      gimana, y, Kit?
      gak ada pilihan lain…
      yah, berubah…
      merubah..

      brubah…
      satria baja hitam..
      ciaaatttttt
      —–makasih kunjungannya..
      kalo kopinya gak abis..
      bungkus aja, Kit..

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s