Semarak Cinta, Kala Update Disambi Photocopy

* mengenang 365 hari semarak cinta, persembahan khusus untuk : Zawjatee, Esti Dwi Apriliani

Kisah cinta ini, Allah yang menuliskannya...

Termasuk strategi bodoh saat mengendarai kereta ekonomi adalah menempati tempat duduk kosong yang terlihat menggoda, cuma berbekal tiket tanpa duduk. Jadilah malam ini, uda habiskan dengan menggonti-ganti pose berdiri uda, layaknya model di panggung catwalk. Setelah beberapa menit sebelumnya diusir oleh si empunya bangku. Dingin angin malam meniup-niup pori-pori tubuh uda. Lembab dan menusuk. Menjadikan pasokan angin di dalam perut uda menjadi berlebih. Dan sobat, efeknya jelas, sendawa terus-menerus, yang amat menyiksa. Dan kemudian dilengkapi secara sempurna dengan serbuan amunisi gas bau yang berasal dari organ tubuh bagian bawah uda. Agar serangan itu tidak cuma menzolimi satu sasaran saja, beberapa kali uda coba bermanuver. Ke kiri kanan. Kemudian membalik seratus delapan puluh derajat posisi tubuh uda. Setidaknya malam itu masih tersisa perasaan simpati dan prihatin pada hati uda, yang pada saat itu sebenarnya juga amat patut dikasihani.

Menjelang tengah malam, kepala uda mulai pusing. Perut uda bergelut dengan rasa mual. Uda rasa ini karena Uda telah ceroboh ketika akan menempuh perjalanan jarak jauh. Bayangkan, uda berangkat cuma berbekal sarapan pagi. Dan malam ini sari-sari makanan tadi pagi yang telah lenyap entah kemana, tidak mampu menyuplai energi uda. Rasa lemas Uda semakin bertambah ketika mengingat apa yang akan uda hadapi besok. Tumpukan dokumen. Lembaran-lembaran kertas. Mesin photocopy. Dengan kondisi lelah macam ini tentu pemandangan itu menjadi momok bagi pikiran uda. Ya, menjadi beban. Sampai kemudian Uda mengingat satu kosa kata lagi. Kosa kata yang agak-agak beraroma asing. Update. Memperbaharui. Uda kesana tidak dalam rangka sekedar mempotokopi. Bukan untuk urusan seteknis itu.

Uda akan memperbaharui hubungan uda dengannya. Mengikatkan kembali memori-memori yang mungkin kemarin telah sedikit tercerai berai. Mengingatkan kembali calon mertua uda bahwa mereka punya calon menantu yang patut disyukuri untuk didapatkan. Seorang menantu yang mau bertanggungjawab. Bersedia menempuh perjalanan jauh ini demi memenuhi undangan mereka. Perjalanan ini juga sebagai penjelasan untuk calon permaisuri uda [Ani-red]. Bahwa uda sanggup melakukan ini untuknya. Meski dalam status yang masih lumayan menggantung ini. Uda hanya ingin rasa percayanya juga terbaharui. Keyakinan dalam hatinya terupdate, bahwa uda tak akan berpaling. Bahwa uda tetap akan komitmen pada janji khitbah uda (pinangan-red). Dengan tentu saja, juga memperbaharui kesan-kesan yang bisa menguatkan azzam uda untuk menggamit cintanya.

Mak Comblang yang Harus Bertanggungjawab

Di stasiun, sahabat sepuh uda menyambut bersama senyuman tipisnya yang teramat khas. Teman yang telah sejak lama menemani masa-masa lincah uda di perkuliahan itu, tersenyum seperti tanpa ekspresi. Ia kulum sendiri sesuatu yang ia rasa, tanpa ingin membaginya. Benar-benar cara rakus dalam menikmati sebuah momen indah. Tatapan matanya menjalari tiap buku-buku tubuh Uda. Lama dan iapun tersenyum dengan sudut bibir sedikit lebih memanjang namun tetap dalam keadaan tetap dikulum. Senyuman yang seakan membahasakan kebahagiaannya. Bahagia karena teman sejawatnya ini tetap patuh pada kezuhudan yang mereka bangun bersama sejak dahulu. Dengan indikator, postur masih kerempeng yang sangat kentara terlihat dari tiap-tiap gerakan-gerakan mereka. Gerakan yang amat susah dibedakan dengan sejenis gerakan dari tari kejang.

Perjalanan kami berdua telah disambut dengan sikap aneh seorang pedagang kitab yang marah-marah karena bukunya cuma kami pegangi dan tidak kami beli. Keadaan diperparah dengan ugal-ugalannya pengemudi bus patas yang kami tumpangi. Kami tak tahu jelas musabab grasak-grusuknya. Berguncang-guncang, sesekali melesat, dengan kelihaian nekat, kami serasa berada di mainan roller coster. Benar-benar hampir mirip. Tapi dengan taruhan yang lebih mengerikan. Nyawa. Sobat sepuh uda beberapa kali terlihat berkomat-kamir. Dari gelak mulutnya, uda tebak ia sedang berulang-ulang mengucap istighfar. Ekspresinya seakan terlihat menyesali keputusannya untuk menemani uda. Namun terlihat airmukanya dengan sebentuk tanggung jawab, sekuat tenaga menahan rasa takut yang disuguhkan oleh ekspresinya tadi. Karena memang sobat, dialah sang mak comblang itu. Yang mau tidak mau harus ikut serta menjalani setiap derita perjuangan yang uda lakukan. Setidaknya sampai ia memahami hakikat beratnya perjalanan sebuah cinta.

Digiring Mandi oleh Calon Permaisuri

Kedatangan uda kali ini agak berbeda dengan kedatangan yang sudah-sudah. Kali ini uda datang dengan visi yang jelas. Memberikan bantuan operasional untuk Bapak [calon mertua-red]. Jika kemarin langkah uda masih dibayangi perasaaan takut dan ragu. Sekarang semua lenyap. Hilang tanpa sisa. Berganti dengan nuansa dibutuhkan, yang membuat uda berjalan dengan amat gagah. Uda dan saudara sepuh uda memasuki pintu rumah kayu itu. Menyalami bapak dan ibu, yang seperti biasa, tetap saja masih disibukkan dengan kerja sambi. Yang sebentar lagi juga akan uda lakoni.

Ani melirik sebentar kearah uda dan rekan sepuh uda. Terlihat seperti sedang membaca mimik wajah kami. Menyelami gurat kelelahan teramat sangat disana. Menimbang-nimbang rona pengharapan kami berdua akan sajian minuman pelepas dahaga. Ia melangkah gemulai ke arah dapur setelah merasa yakin kami memang berhak diberi minuman.

Jelas bagi uda, Ani akan menyuguhkan sejenis minuman melegenda itu. Teh rosella yang hamidho [asem-red]. Keyakinan uda penuh. Dan uda menghitung detik-detik kedatangannya membawa segelas minuman yang uda perkirakan. Rekan sepuh uda menggeleng-geleng karena ia memang tidak begitu menyukai minuman itu. Ia mendambakan segelas es teh manis. Dari tadi ia meracau menyebutkan minuman itu. Namun uda sangat yakin udalah bintang utama pada hari ini. Dan keinginan-keinginan udalah yang akan dikabulkan. Hehehe…

Kami masih saja larut dalam debat sampai Ani mendekat. Ia membawa serta nampan berisi dua cangkir rosella hangat yang membuat tengorokan uda tak sabaran untuk meneguknya. Sadar dugaan uda tepat, uda injak kaki rekan sepuh uda yang duduk di samping uda. Uda coba memanas-manasinya. Ia lagi-lagi cuma bisa memandangi uda dengan tatapan bengisnya. Seakan menggertak uda. Beraninya cuma kalau ada perempuan!

Selepas minum, Ani menghantarkan uda untuk menikmati sejuknya siraman air di kota terpanas itu, Purwodadi. Momen kholwat beberapa saat itu membuat uda salah tingkah. Uda seperti berjalan di atas awan. Mengambang. Berangan-angan layaknaya melangkah ke pelaminan. Meski Ani cuma mengiring di belakang uda. Hmm…dan memang seperti itu mestinya. “Mau pake air hangat, Mas?” tawarnya. Hati uda yang bergetar tak karuan membuat langkah uda lunglai. “Enggak usah..” jawab uda. Sebenarnya uda ingin melanjutkan dialog ini, namun sayang itu hanya terekam dalam pikiran uda saja “Enggak usah, airnya sudah dihangatkan oleh penyambutan hangatmu ini, Dik…

Selesai mandi uda lihat sarapan telah disiapkan Ani. Rekan sepuh uda sudah bersimpuh di lantai. Siap dalam posisinya. Kami bersantap di lantai. Menu santapnya spektakuler, ikan kakap ukuran raksasa. Dan juga dalam jumlah banyak. Selera uda tergugah. Ani menatap uda selintas untuk kemudian berucap lirih “Makan yang banyak ya, Mas. Biar endut”. Dengan sempurna gurauan itu ditutup olehnya dengan senyuman kecil teramat manis. Untung rekan sepuh uda sudah teramat fokus mengagumi betapa melimpah dan lezatnya hidangan kami siang ini, Sehingga ia tidak mendengar candaan lirih itu. Kalau sampai ia mendengarnya, tentu ia akan tersinggung. Karena kata-kata itu [Makan yang banyak. Biar endut-red] sebenarnya lebih tepat jika dialamatkan padanya.

Nisa, Peri Kecil sang Moderator Cinta

Uda kikuk. Begitupun rekan uda. Kami sama-sama merasa canggung. Bapak dan ibu calon mertua uda masih berkutat dengan pekerjaan menyibukkan itu. Di sudut sana, membelakangi kami, Ani juag terlihat amat asyik mengutak-atik laptop. Uda dan rekan sepuh uda merasa jengah, amat tak nyaman. Setelah dijamu makan siang tadi, energi kami seperti disia-siakan. Kami membutuhkan penyaluran yang tepat untuk tenaga berlebih kami sekarang. Untunglah dibalik kecanggungan itu, Allah mengirim seorang peri kecil. Nisa, adik perempuan Ani yang gemar tertawa riang serta melakukan keusilan-keusilan kecil. Ia berhasil membuat kami mengeluarkan energi ini. Ini adalah sambutan yang mungkin tak direncanakan oleh keluarga ini. Tapi ia amat istimewa bagi kami. Ia nakal, tapi nakal yang menggemaskan. Ia juga usil, tapi usil yang manis.

Bahkan sampai kami sudah benar-benar berada di hadapan mesin fotokopi itupun ia masih menggoda kami dengan kehangatannya. Ia menggelantung di paha uda. Kemudian bergelayut manja. Tertawa-tawa ceria. Menutupi kelelahan dan kejenuhan kami menghadapi mesin duplikasi ini. Sampai kemudian keusilannya muncul. “Mas Riki, istrimu dimana sih?”. Uda pura-pura bingung, mengangkat bahuku lalu balik bertanya. “Emang Dik Nisa tahu, istri mas Riki ada dimana?” Sambil tertawa-tawa, telunjuknya mengarahkan pandangan uda pada sosok yang masih bercengkrama dengan komputer portable itu. Mengarah pada calon permaisuri Uda. Ani. ‘Dik Caca, Dik Caca. Terima kasih ya Dik, telah menjadi moderator cinta uda dan mbak Ani……

Pulang Diantar dengan Bekal,  ‘Merencanakan Reuni Keluarga di Syurga’

Selepas menyelesaikan tugas, uda dan rekan sepuh uda pamit. Ani menahan kami sebentar lalu ia masuk dan membawa dua bingkisan. Satu untuk uda dan satu untuk rekan sepuh uda. Uda ucapkan terimakasih dan kami beranjak pergi. Namun dik Caca, si bungsu ternyata telah berada di pintu. Kedua tangannya dibentangkan menutupi pintu. Pintu keluar itu sudah diblokade olehnya. Ia terlihat sama sekali tidak mau berkompromi. Matanya berkaca dan diliputi rasa kehilangan yang amat sangat. Jelas ia belum rela kehilangan uda dan rekan sepuh uda secepat ini. Uda lihat-lihat bungkusan oleh-oleh itu. Oleh-oleh paketan. Mulai dari sabun sereh, wafer, roti, kacang ijo, susu, kaos solo balapan, serta sebuah majalah dengan tema menggelitik “Merencanakan reuni keluarga di syurga”.

Sayangnya Uda gagal menyerahkan sesuatu yang sudah uda beli jauh-jauh ke taman laut Bunaken di kota Manado. Uda sudah mempertaruhkan nyawa dengan mengarungi lautan ganas selama waktu tempuh lebih kurang satu jam perjalanan. Apalagi saat itu cuaca tidak bersahabat. Ombak seperti menggila. Menghantam perahu-perahu yang hendak mengganggu kemarahannya. Ia sedang murka dan belum mau diganggu bisingnya bunyi diesel kapal boat yang akan menghantarkan para wisatawan kesana. Meski gerimis kami tetap berangkat.

Di ujung sana. Oleh-oleh itu  uda dapatkan. Sepasang cincin tali berwarna hitam. Dengan hiasan kerang putih di tengahnya. Memamng murah harganya. Tapi pengorbanan yang  uda lakukan untuk mendapatkan benda remeh itu amatlah mahal. Karena demi oleh-oleh ini, Uda lupakan sejenak salah satu kelemahan vital uda dia air. Berenang

Sekarang, di hadapan calon permaisuri uda, nyali uda yang dulu berhasil menaklukkan gertakan sang ombak,  hanya bisa bertekuk lutut pada waktu yang seakan tidak berpihak. Semenjak memfotokopi, kedua orangtua Ani tidak pernah lengah memperhatikan kami. Sehingga uda belum juga berhasil mencuri momen penting itu. Dan uda akhirnya menyerah dan pasrah. Meyakini bahwa cincin itu sebenarnya memang hanyalah sebuah benda remeh. Dan uda terlalu membesar-besarkan nilainya dengan alasan sembarangan yang amat dibuat-buat. Berhasil melewati liarnya Dik Nisa, uda berjalan gontai dengan rekan sepuh uda. Menyadari betapa uda ini memang seorang penakut.

Mendekati jalanan besar, uda dan rekan sepuh uda merasa diikuti. Bukan oleh seseorang yang membahayakan. Tetapi oleh seseorang yang baik auranya. Seseorang tempat aura ini berasal, ingin memastikan dua tamunya pulang dengan selamat. Setidaknya hingga ke depan gerbang gang rumahnya. Uda dan sahabat uda berbisik-bisik sebentar, untuk kemudian sepakat menoleh. Benarlah. Di belakang kami, sang calon permaisuri, Ani, dan putri kecil yang amat menggemaskan, Nisa, berjalan beriringan. Mereka seperti sedang membicarakan uda. Berbisik-bisik riang. Sesekali tertawa kecil.

Mendekati jalanan besar, uda memperlambat langkah uda. Sengaja. Uda merasa kesempatan itu masih ada. Bukan. Lebih tepatnya. Ani sedang membuka kesempatan itu. Dan uda tak mungkin membuatnya kecewa dengan menyia-nyiakan peluang yang diciptakannya ini. Ani dan adiknya duduk pada tembok di sisi gerbang. Uda perlahan mendekati adiknya lalu berbisik memintanya memberikan cincin itu pada kakaknya. “Dek, berikan cincin ini ke mbak Ani, ya…makasih…” Lalu uda dan sahabat sepuh uda melintas. Dari seberang uda melihatnya meraih cincin itu dari sang adik dan perlahan memakainya. Sang Adik merasa tidak terima dan berusaha menjangkau-jangkau benda itu. Setelah berhasil menangkap tangan sang kakak, ia dengan lucu mengangkat dan menggoyang-goyang tangan sang kakak, seakan berkata “Mas, ini calon istrimu, kok ditinggal di sini, tho…?”  : )


* Cerita ini diambil dari kumpulan cerita bertajuk “Kisah Cinta ini Allah yang Menuliskannya, yang pernah Uda hadiahkan untuk istri Uda pada pernikahan kami, 03 Juli 2009

10 thoughts on “Semarak Cinta, Kala Update Disambi Photocopy

  1. Ani

    hiks…
    speechless…
    trimakasih atas smuanya Da
    Ani tdk bs membalas dgn apapun
    maaf atas sgala salah n khilaf slama setahun ini
    smoga k depan bahtera rumah tangga qt bs lbh baik
    amin
    ^,^

    Reply
  2. ipul

    wee..
    sekarang dipublish untuk konsumsi publik ya..?😛

    baru tahu tyt ulang tahun pertama yang menjadi penyebabnya.
    membaca ceritanya,, rasanya kok kasian bgt sahabat sepuhmu itu akh,.

    gmn kalo ceritanya ditambahi (diedit maksudnya)…
    karena sesungguhnya, sahabat sepuhmu tadi juga mendengar kalimat berakhiran _ndut_ tadi
    tapi dibiarkannya saja, karena ikan bakarnya terlihat lebih ndut dan menggoda

    wkwkwkwk..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s