TIMBANG PILIH

Hal paling sulit dalam biografi kehidupan seorang manusia namun mau tak mau harus dilakukan adalah memilih. Jika hitam putih bicara mengenai penyederhaan pemilihan. Dimana warna satu mewakili kosakata ‘baik’ dan satunya lagi berafiliasi ‘jelek’. Maka akan menjadi menarik ketika kita coba sisipkan corak abu-abu ditengah-tengahnya. Biarkan saja pikiran kita bebas berfantasi, apakah abu-abu itu muda, gelap, ataupun cuma abu-abu yang sedang-sedang saja.

Onderdil utama yang kita gunakan adalah otak. Otak memilah informasi, mengurai dan meruntut dampak baik dan efek negatifnya, untuk kemudian mengambil sebuah keputusan, yang kita sebut dengan ‘pilihan’. Namun alangkah baiknya jika onderdil utama ini tak diberi kuasa terlalu berlebih. Onderdil utama bernama otak ini sebaiknya  kita kirimi seorang kawan dari pelosok negeri hati bernama bijak. Sehingga pilihan-pilihan yang muncul tak melulu menguntungkan satu pihak saja, yaitu kita pribadi. Alangkah baiknya jika setiap pilihan yang kita ambil bisa member manfaat bagi banyak orang.

Jika memang dalam pemaparannya terlalu mengawang ijinkan uda menawarkan sebuah narasi cerita dan uda minta kawan-kawan bisa andil bukan sekedar dalam membaca namun memberikan pilihannya.

# Cerita 1 – ‘REL’#

sumber: FLICKR photo

Cerita ini pernah uda dengar dari kakak kelas sewaktu lampau saat masih giat di bangku kuliah. Kira-kira bunyi ceritanya seperti begini. Jika kita menjadi masinis yang harus segera memutuskan untuk memilih diantara dua jalur rel kereta. Dimana rel kanan merupakan rel yang biasa dilewati kereta namun disana terlihat banyak anak-anak yang sedang bermain. Sedangkan  di sebelah kiri, ada seorang anak kecil yang sedang asyik bercengkrama dengan bonekanya diatas rel yang sudah lama tidak difungsikan, namun masih bisa digunakan itu. Maka  rel mana yang akan kawan lintasi? Rel biasa atau rel yang cuma ada satu anak kecil diatasnya tadi? Anak mana yang akan kawan korbankan dan yang mana yang akan kawan selamatkan?

# Cerita 2 – ‘TOILET’#

Cerita ini baru saja muncul dalam kepala uda beberapa saat lalu. Jika kawan-kawan, terutama yang lelaki sedang di WC umum, dan kebetulan sedang kebelet buang air kecil, maka kawan akan menggunakan toilet berdiri yang memang diperuntukkan untuk buang air kecil, ataukan tetap menggunakan toilet tertutup yang diperuntukkan untuk buang air besar, karena perasaan malu menunaikannya di toilet berdiri dengan kemungkinan membuat kawan kita yang lain yang lebih membutuhkan harus menunggui kita?

Sebetulnya banyak misteri kebijakan dalam pilihan kita, yang bisa jadi cuma kita dan Allah yang mengetahuinya.  Artikel ini uda buat cuma untuk melihat bagaimana cara teman-teman menimbang pilih. Tak ada maksud lain. Betul-betul tak ada.

4 thoughts on “TIMBANG PILIH

  1. bundamahes

    CERITA 1
    saya milih rel dengan satu anak kecil, karena :
    *** Meskipun jarang digunakan, rel itu masih BERFUNGSI!
    *** Jika diliat dari “mudharat” yang akan timbul, dari rel ini hanya “dikorbankan” 1 orang anak saja.

    CERITA 2
    no comment! blom pernah dihadapkan pada situasi itu🙂

    Reply
    1. jundi

      hehehe…
      iya, mbak..
      meski yang salah sebenarnya anak-anak yang bermain di rel yang masih berfungsi dan merupakan jalur yang biasa digunakan.
      miris sih..
      itulah pilihan..

      Reply
  2. kangpandoe

    Pilihan cerita 1:
    pilih yg banyak anak2nya, alasannya teori kolektivitas akh, tinggal kita klakson aja bubar satu bubar semua, klo yg sendiri bisa jadi dia keasyikan atau lagi ngelamun gak denger ada kereta

    pilihan cerita 2:
    pilih yg toilet jongkok aja deh, kan Rasululloh mengajarkan kencing sambil duduk, kata ahli kesehatan bagus untuk mencegah batu ginjal

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s