EDISI#2: ‘MEMOAR EMPUNYA RUSUK YANG HILANG’

———— Special for Zawjatee ————

Kita berandai-andai bahwa jalan cerita roman Romeo & Juliet diubah secara ekstrem oleh penulisnya, Shakespeare’s. Sehingga kemudian dua sejoli ini akhirnya dapat hidup berdampingan. Sebagai suami dan istri. Namun jangan pernah membayangkan bahwa hari-hari mereka hanya akan diisi dengan puisi, bunga, dan zahir romantisme lainnya.Bisa saja dan sangat bisa, tiba-tiba tetangga sebelah mendengar makian dan piring pecah.

—————–

Kajian petang uda dan gerombolan uda masih akan mengupas kulit-kulit cinta. Kali ini buah yang kami kuliti adalah ‘rumah tangga’. Setelah uda buka dengan prolog tafsir singkat “Setangkai Kayu Bakar”, Kyai [guru ngaji-red] kami ikut nimbrung berceloteh penuh hikmah. Senyuman bersahajanya merebut perhatian kami sejenak. Lalu asam garam yang pernah beliau cicipi diuraikan pada kami dengan kalimat-kalimat syahdu teramat bijak. Tak ada kesan menggurui, ataupun sok pintar. Semuanya seperti cerita kisah. Mengalir begitu rapi tertata.

Bertengkar untuk Bahagia

Belum ada vaksin yang bisa melindungi rumah tangga secara sempurna dari konflik. Jadi tak perlu terlampau kaget saat mendapati pasangan yang sebelumnya begitu tampak sempurna di mata kita, tiba-tiba menjelma menjadi orang paling menjengkelkan, di kali lain. Ini sebenarnya bukan penyakit. Bagi yang berpikirian positif, bilang ia penyedap. Adapun yang berpikiran melankolis berpendapat bahwa itu adalah mekanisme. Amat manjur memancing peningkatan kemesraan antar-pasangan. Serta mengimunitas pasangan dari stagnasi hubungan yang bisa mengarah pada kejenuhan. Pola kemesraan dengan model begitu-begitu saja. Patut diingat, tak akan pernah bersua frase ‘kejenuhan’ dengan kosa kata ‘bahagia’.

Memori Cinta

Sosok sahabat luarbiasa berikut ini memberi contoh bahwa konflik itu bukan cela. Ia malah bisa mengasah kesyukuran. Pemutar memori akan luhurnya bakti istri. Dan kadang-kadang membina  kedewasaaan dan kematangan berpikir. Menempa suami menjadi lebih gagah dan mempesona.

——-  Suatu ketika kediaman sahabat, Umar ibnul Khaththab r.a. didatangi seorang laki-laki Badui. Lelaki ini berniat mengadukan kelakuan kurang terpuji pendamping hidupnya. Beberapa saat lamanya ia menunggu di depan pintu rumah Umar. Ia coba ketuk pintunya. Namun kemudian terdengar olehnya sesuatu yang amat mengejutkan. Dari dalam istri Amirul Mu`minin itu berbicara kepada suaminya nada kasar. Subhanallah, sungguh menakjubkan, seorang Umar yang berkepribadian keras dan tegas hanya diam. Amat tenang dan tidak menyahut.

Niat lelaki itupun undur diikuti langkah kakinya. Ia berkata pada dirinya sendiri, “Keadaanku…[ia membandingkan perlakuan istrinya dengan perlakuan istri Amirul Mukminin]” Menyadari ada yang mengetuk , Umar keluar. Laki-laki yang mulai menjauh itu beliau panggil. ” Apa maksud kedatanganmu?” Lelaki badui itu menjawab, “Yaa Amirul Mu`minin….”, ucapnya sendu. ”Tadinya aku datang untuk menceritakan perkara istriku. Ia terlampau cerewet dan acap bicara kasar kepadaku. Akan tetapi, telah aku dengar sendiri. Bahwa istri anda tak jauh beda dengan istriku. Lalu akupun berpikir, kalau istri Amirul Mu`minin saja begitu, apalah lagi istriku…”

Umar merespon lelaki Badui itu“Adapun aku. Aku tabah dan sabar menghadapi kenyataan itu karena ia menunaikan segala kewajibannya dengan baik. Makananku, dia yang memasakkan, dia juga yang membuatkan roti untukku. Dia yang mencuci semua pakaianku, lalu dia pula yang menyusui anak-anakku, padahal itu bukan sepenuhnya kewajibannya.” Beliau menambahkan “Dan dia pula yang menenteramkan hatiku. Sehingga aku dapat menjauhkan diri dari perbuatan haram. Karena semua itulah aku tabah dan sabar mendengarkan apa saja yang dikatakannya mengenaiku…”

“Saudara…, bersabarlah menghadapi istrimu, kejadian itu hanya sebentar..” ————

Volume Ruhiyah

menambah volume ruhiyah

Sahabat  yang satu ini beda lagi. Masjid. Itulah tempat pelariannya ketika cekcok dengan istrinya. Ketika ada masalah, maka beliau memperkuat asupan ruhiyahnya. Introspeksi diri. Mengadu dan berdo’a.

——-Diceritakan bahwa suatu hari Rasulullah saw bersilaturahim ke rumah putri beliau, Fathimah. Namun disana beliau tidak menjumpai Ali. Lalu beliau bertanya pada putrinya, “Di mana anak pamanmu itu?” Fathimah menjawab, Sesuatu telah terjadi antara aku dengan dia. Dia marah lalu pergi keluar rumah. Dia tidak tidur siang di sebelahku”

Rasulullah berkata kepada seseorang: “Lihatlah di mana Ali.”Orang itupun datang menghadap dan memberi kabar: “Wahai Rasulullah, dia ada di masjid. Sedang tidur.” Rasulullah mendatangi Ali yang saat itu sedang berbaring. Beliau dapati selendangnya telah jatuh dari punggung menantunya itu dan pasir menyentuh punggungnya. Mulailah beliau mengusap pasir-pasir tersebut dari punggung Ali seraya berkata: “Duduklah wahai Abu Turab. Duduklah wahai Abu Turab!”———

Suami dan Istri. Lewat ikrar pernikahan, masing-masing bercita-cita bahagia. Tak bijak rasanya, egois memikirkan hanya kebahagiaan sepihak saja. Cuma menuntut tanpa niatan mempersembahkan kebahagiaan. Sepertinya referensi shirah kita perlu diperkaya, salah satunya dengan fragmen permasalahan rumah tangga para sahabat. Istri  kita bukan malaikat. Ia juga manusia. Bisa jadi kedongkolan istri adalah buah dari kesalahan suami yang tidak ia sadari. Atau mungkin istri sedang merasa empati sang suami belum memadai.

Beberapa suami, yang ketika didiamkan oleh istrinya sudah sangat murka maka belajarlah dari memori balas budi Abu Bakar. Resapi keagungan emosi Abu Bakar. Lalu tersenyumlah penuh cinta pada istri kita. Rangkul ia, hangat dan bisikkan lembut pemberian maaf di telingannya sebelum sempat ia minta.

Beberapa suami yang keliru mencari pelarian, Ikutilah jejak-jejak indah Ali. Bertafakurlah di masjid. Hitung-hitunglah nikmat Allah yang diberikan melalui jari-jemari istri kita. Dan mungkin melalui semua gerak lakunya. Lantas pulanglah. Hapus airmatanya. Obati kerinduannya.  Hulurkan sebingkis karangan “terima kasih” dan serangkaian “permintaan maaf” padanya.

Maka bertengkar tak akan mencatatkan kemenangan bagi setan dan pasanganya, tapi kemenangan bagi cinta.

—Salam romantis.

*] Mengingat berantem-berantem kecil dengan permaisuri Uda.

14 thoughts on “EDISI#2: ‘MEMOAR EMPUNYA RUSUK YANG HILANG’

  1. Sya

    Hmm, jangan-jangan dari pengalaman pribadi ya? Hihihi. Tapi tulisannya sangat bermanfaat, semoga bisa diterapkan ketika saya menikah.

    Reply
  2. Eyangkung

    Saya tertarik kisah2 yang disampaikan pasangan muda ini.

    Membaca tajuk Bertengkar Untuk Bahagia itu memang benar! Saya juga sudah membuktikan hal itu. Maka pada saat perkawinan kami sampai dengan 10 th saya masih menerapkan Bertengkal Berkala. Isteri Uda ‘kan orang Jawa. Ada istilah Jawa MBANGUN TRESNO mungkin istilah menterengnya: merefresh cinta. Tidak percaya?? Ingin mencoba dan membuktikan?? harus tahu caranya yang tepat. Eyangkung siap membantu.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s