Category Archives: cinta dua kerempeng

Mukadimah Romantika Persahabatan

Bagi uda, berkawan hampir mirip menyeruput kopi. Ada aroma harum, yang meski sejenak dapat melarutkan kesusahan hidup. Juga ada hangat yang tak cuma singgah di lidah namun juga berdiam lama di hati. Membuat kita lebih bergairah menggamit hidup.  Adapun rasa pahitnya yang turut mampir itulah kekayaan sebuah kopi. Itulah cita rasa persahabatan. Pahitnya itulah sang pembuat lezat. Maka hampir tak ada kekurangan yang uda temui pada kopi ini kecuali ketika kopi ini habis dan cuma menyisakan ampas. Mudah-mudahan tidak.

Dan benar. Setelah menghamparkan kisah CDK, uda mendapat tulisan balasan dari sedulur sepuh kerempeng uda…

—————————————————–

oleh: syaifull affandi

http://jaisymuhammad.blogspot.com/2010/10/sahabat-adalah-segalanya.htmlBanyak orang bilang, “seseorang itu akan menemukan jodohnya di tempat dia merantau”
Maka aku punya yang jauh lebih baik “seseorang itu akan menemukan sahabat terbaiknya, saat dia merantau”

.:Dedicated to my priceless friend:.
ini adalah saat-saat awal persahabatan dua kerempeng, masih jelas dalam ingatanku.
adakah demikian juga padamu?

Kali pertama, dia memperkenalkan diri dalam kelompok “Saya mempunyai bakat dalam bidang menggambar”. “Wih, ni anak baru, sombong kali, (nantangin ya)” begitulah yang saya rasa saat itu, maklum jiwa muda saat itu gampang terpancing hal yang remeh temeh. Sungguh saya menilai dia sosok yang akan sangat sulit didekati sebagai kawan.  “Ntar lah kita liat, jago beneran apa enggak” kebetulan kami satu kelompok saat orientasi mahasiswa baru.

Interaksi kedua, setiap kelompok ditugaskan membuat maket kampus. Secara aklamasi si kerempeng tadi ketiban tugas. Dia menyambut bersenang hati. Lalu datang si tokoh antagonis (saya) dan meliat-liat pekerjaannya yang baru separo jalan, mengkritik sana-sini dengan tampang sok ketua, padahal cuma bendahara, bendahara bayangan pula. (mengenai bendahara bayangan ini, silakan tanyakan pada beliau).

Beberapa kalimat terucap pertama kali darinya untukku.
Kalimat itu tidak benar-benar aku tangkap sempurna. Kalah oleh suasana yang melemparku jauh ke masa anak-anak. Bersama teman-teman SD, sahabat-sahabat pertama yang aku miliki. Seketika kegembiraan di masa-masa kecil tergambar begitu saja. Nostalgia sepersekian detik itu tanpa sadar merubah cara pandangku kepadanya.

Satu yang  kuingat, ada cengkok minang dalam bahasa Indonesianya. Tipis, tapi tidak bisa disangkal atau ditutupi. Dibesarkan dalam keluarga minang membuatku peka pada keberadaan cengkok ini. Tidak hanya mengingatkanku pada teman masa kecil, namun juga pada keluargaku di ujung kampung Solok, Sumatra Barat, pada adik dan kakak sepupuku disana.

“Anak ini, punya sesuatu yang menarik”

Saat itu dia tidak menolak satu pun kritikanku, memuji dengan panjang lebar malah, sambil bertanya, lalu dijawabnya sendiri.

ini… bukan kalimat anak-anak takabur. Bukan tipikal anak yang susah didekati. Bahkan sebaliknya, dia memiliki hampir semua sifat paling baik sebagai sahabat. Tidak akan merugi orang yang bersahabat dengannya (insya Allah).

Tak berselang lama, kami berdua masuk dalam satu organisai kampus yang sama. Saat itulah romantika persahabatan kami dimulai. Kami tumbuh menjadi sahabat yang saling melindungi, saling membela, saling berbagi, dan saling mempercayakan. Kami tidak akan mengkritik satu sama lain kecuali dengan cara yang paling halus, bahasa sindiran. Dengan latar belakang minang kami, tak susah menjadikan sindiran sebagai media paling bersahabat untuk mengkritik. Memang lama, berputar-putar, dan penuh basa-basi, butuh kesabaran, namun mengena, dan tidak perlu menyakiti.

Sesekali, pernah kami bermasalah satu sama lain. Dan itu menjadi hari-hari yang panjang buat kami (setidaknya buat saya). Bermasalah dengannya adalah hal yang sangat menyebalkan. Ada ego tinggi yang tidak mau dikalahkan. Lucunya, bermasalah dengannya adalah hal yang paling mudah diselesaikan. Cukup pura-pura mengajak makan malam seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Bahkan pura-pura tambah marah pun jadi-lah. Beruntung, masing-masing kami tahu bahwa itu adalah cara kami berdamai.

Hanya dua tahun kami bersama di kampus Jakarta, namun rasanya, belum pernah se-lama ini bersahabat dengan yang lain. Ada banyak cerita berharga yang bisa dikenang. Dan suatu saat akan saya ceritakan kepada anak-anak saya insya Allah, tentang my priceless friend.

| semoga Allah menyenangkan hatimu akhy,, di dunia, dan di akhirat |

sumber: http://syaifullaffandi.multiply.com

Advertisements