AMNE-SIAL

Banyak kejadian ajaib muncul akibat penyakit akut ini. Namun hampir tak ada yang membawa untung. Semuanya hampir cuma menyajikan  kesialan. Makanya kebiasan buruk ini uda sebut amnesial. Istilah gampangnya dari lupa yang bawa sial.

Gerimis yang semakin lama semakin menambah kapasitas pasukannya berhasil memaksa uda dan para pengendara lain menyelubungi diri dengan mantel parasut yang untungnya sempat terbawa. Mengendara menerabas gerimis lumayan lebat macam begini sebenarnya bisa jadi romantis andai saja ada permaisuri uda memagut dari belakang. Namun jadi menyebalkan karena mantel hijau ini ternyata tak cukup hangat untuk menggantikan permaisuri.

Sebelum memasuki ruangan kantor di lantai empat, uda membasuh muka di toilet lantai dasar. Tabiat mulia bersih-bersih inilah yang akan menjadi pemantik petaka nantinya. Uda naik lalu bergabung dan bercengkrama bersama kawan-kawan kantor. Gelak tawa lepas, sindir menyindir pedas.

Masuk jam sarapan, uda cek bawahan meja. Uda utak atik berkas-berkas. Tetap tak menemukan barang yang uda cari. Sebungkus sarapan bingkisan istri. Menyerah, uda substitusi sarapan itu dengan secangkir besar kopi. Memasuki jam makan siang, sembari turun sembahyang, uda coba telisik ulang ke motor. Tetap nihil tanpa hasil. Uda putari ruangan kantor dengan seksama dan masih tak menemukan bekal itu. Lagi-lagi menyerah dan keluar makan siang bersama Harestya, rekan yang juga sering terjangkit amnesial. Jam lima sore waktu pulang, kembali uda telusuri bekal itu. Uda toleransi rasa penasaran uda sampai tiba maghrib. Selepas sembahyang uda niatkan langsung pulang dan mengikhlaskan bekal itu pada penyakit amnesial uda.  Kembali terjadi perkara ajaib. Kunci uda tak ada tempat. Bergantian uda geledah kantong rompi, jaket, celana, rak meja, tas. Cuma dengusan napas putus asa yang terhembuskan. Lalu memori itu lamat-lamat kembali, perlahan dan ringan sampai akhirnya menyeruak paksa hadangan si penyakit amnesial.

Memori mengantarkan uda pada tempat pemantik perkara. Tempat tabiat mulia uda mulai. Kloset lantai dasar. Uda berlari kesana untuk kecewa. Barang itu sudah tak disana. Uda tanyakan penunggu ruangan. Tanpa menyan dan dupa ia bilang bahwa barang itu berada di pos satpam. Uda sampiri dan akhirnya bertemu muka dengan bekal itu berikut kunci motor. Bahagia sekali rasanya, hampir serupa dengan bahagia rekan uda, Haretsya saat mendengar uda mengisahkan cerita ini. Yang juga segembira istrinya saat diceritakannya ulang kisah ini menjelang tidur, tanpa istrinya tahu bahwa bisa jadi penyakit amnesial suaminya lebih akut dari uda. Sebenarnya uda juga sudah agak lupa siapa diantara kami yang lebih kronis. Oh, dasar kau amnesial!

*Ditulis untuk kawan sesama penderita amnesial. Ingatlah – lupakan saja semua kesialan akibat amnesial kita. Ingatlah yang manis manis dan maniskan yang pahit-pahit. Semua tentu akan semakin mekar indah.

13 thoughts on “AMNE-SIAL

  1. niccaniez

    Hehehehe…,tapi karena amnesial itulah menjadi cerita yang menarik dan bisa lebih menjadi romantis karena akan ada permaisuri yang selalu mengingatkan uda…,^_^

    Reply
    1. reedai313 Post author

      haha..
      sepertinya anda baru saja kambuh kisanak…
      pernyataan ente diataslah buktinya..
      bukan saja kambuh
      namun menjadi lebih akut..

      hehe

      salam hangat sahabat,
      udariki

      Reply
    1. reedai313 Post author

      selamat bergabung sobat Fahrie…
      kartu anggota dan vitamin-vitamin
      yang mendukung keberlangsungan penyakit ini
      akan dikirim dalam tempo yang sesingkat-singkatnya..

      Reply
  2. Johar Manik

    Ternyata satpam Purnawarman lebih manis dari satpam Kampus STAN, Seorang teman sempat bercerita perihal kunci motornya… .

    Reply
  3. Pendar Bintang

    Amnesial sering menghampiri mereka-mereka yang terlalu banyak pikiran, he he he

    Saya jadi ingat, lama sekali tak ngeblog dan menemukan ini. Bahasa tulisan yang manis…..
    Dan saya mungkin nanti akan seperti permaisuri belajar memanggil suami saya Uda, seperti seruan mamanya dan itu membuat lida keluh…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s